Wednesday, 6 Zulqaidah 1442 / 16 June 2021

Wednesday, 6 Zulqaidah 1442 / 16 June 2021

Isolasi Diri, Masih Bolehkah Berada di Tengah Keluarga?

Senin 06 Apr 2020 13:18 WIB

Red: Reiny Dwinanda

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menyebut, isolasi diri di rumah tak berarti diasingkan.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menyebut, isolasi diri di rumah tak berarti diasingkan.

Foto: ANTARA/Nova Wahyudi
Orang yang mengisolasi diri di rumah tak berarti diasingkan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan Achmad Yurianto mengatakan, isolasi diri bukan berarti diasingkan. Ia menjelaskan, isolasi mandiri merupakan upaya menjaga jarak fisik.

"Isolasi diri dalam konteks menjaga kontak fisik," ujar Yurianto dalam konferensi pers di Jakarta, Senin.

Penyakit Covid-19, menurut Yurianto, menular melalui percikan ludah atau droplet yang keluar dari yang sakit saat dia berbicara, batuk, atau bersin. Itu menjangkau jarak sekitar satu hingga 1,5 meter.

Baca Juga

"Lebih gampangnya minimal harus berjarak dua meter. Nah dua meter ini yang harus dijaga," kata Yurianto.

Dia mengatakan, jika seseorang melakukan isolasi diri, maka dia masih boleh berada di tengah keluarga. Namun, ia harus menjaga kontak fisik dan tidak boleh berjarak kurang dari dua meter dari anggota keluarga yang lain.

"Harus pakai masker terus, supaya percikan ludahnya tertahan di masker," jelas dia.

Isolasi mandiri bertujuan untuk melindungi masyarakat yang sehat, agar tidak tertular virus yang menyerang saluran pernapasan itu. Yuri menjelaskan kontak sosial tetap boleh dilakukan, namun jarak sosial harus tetap dijaga. Masker yang digunakan pun masker apa saja.

Isolasi diri, menurut Yuri, tidak harus berkelompok, melainkan bisa satu orang di rumah, bersama anggota keluarga yang lain. Syaratnya, orang yang menjalani isolasi menggunakan alat makan sendiri, tidak kontak dekat dengan keluarga, dan menggunakan masker.

"Jika memunginkan, inisiatif daerah boleh mengumpulkan untuk isolasi mandiri. Asalkan tempatnya nyaman, dibatasi jarak fisiknya, sarana dasar dan kebutuhan dasar terpenuhi.

Selain itu, perlu juga memastikan individu yang melakukan isolasi mandiri itu tetap gembira. Yurianto mengingatkan bahwa perasaan stres sangat mempengaruhi status imunitas seseorang.

"Kuncinya, isolasi mandiri bisa dimana saja, tapi harus membawa rasa tenang," ujarnya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA