Sunday, 22 Zulhijjah 1442 / 01 August 2021

Sunday, 22 Zulhijjah 1442 / 01 August 2021

'Mulailah Berkata tidak Jika Engkau Takut Menyesal'

Kamis 02 Apr 2020 12:39 WIB

Red: A.Syalaby

Ajari anak berkata

Ajari anak berkata

Foto: Republika.co.id
Bukankah mengkhianati janji merupakan ciri orang munafik?

REPUBLIKA.CO.ID,Ketika Ibnu Umar Ra akan meninggal dunia, dia pernah berjanji kepada seorang lelaki Quraisy hendak menerima lelaki itu menjadi menantunya. Dia menjanjikan anak perempuannya untuk lelaki itu. Saat Ibnu Umar kepayahan karena sakit, teringatlah dia akan janjinya itu.

“Demi Allah, saya tidak akan pergi menemui Allah SWT selama diriku masih terdapat sepertiga dari tanda-tanda munafik. Maka di hadapan tuan-tuan yang hadir ini saya nyatakan bahwa laki-laki itu telah saya nikahkan kepada anak perempuan saya.” 

Pada satu hari, Rasulullah SAW dikisahkan lewat di hadapan dua orang yang sedang tawar menawar seekor kambing. Si penjual bersumpah mengatakan kambingnya tidak akan ia jual dengan harga sekian.

Demikian si calon pembeli yang bersumpah bahwa kambing itu tidak akan dibelinya dengan harga sekian. Kebetulan, akhirnya kambing itu dibeli juga dengan menambah harga meski tidak sebanyak yang ditawarkan si penjual. Tidak juga seperti apa yang ditawarkan pembeli. Rasulullah SAW berkata, keduanya berdosa dan keduanya wajib membayar kafarat atas sumpahnya yang telah telanjur mereka katakan.

Janji kepada diri sendiri pun — dalam hal ini bernazar — harus ditepati. Jika tidak, maka ada kafarat yang harus dibayarkan.  Bukankah mengkhianati janji merupakan ciri orang munafik?

Nabi SAW  bersabda, “Empat macam, barang siapa ada padanya sifat yang empat. Ia adalah seorang munafik. Dan kalau ada satu sifat itu padanya, itulah satu tanda munafik, sebelum ditinggalkannya perangi-perangai itu. Apabila berkata berbohong; Apabila berjanji, mangkir; Apabila berkesumat, berlaku kejam.” (HR Bukhari dan Muslim). 

Pepatah Arab mengatakan, “Janganlah engkau katakan ya, dalam suatu perkara jika engkau tidak menyempurnakan janjimu. Amat baik perkataan ya sesudah tidak. amat buruk perkataan tidak sesudah ya.” 

“Perkataan tidak sesudah ya adalah keji sekali. Sebab itu mulailah dengan tidak kalau engkau takut akan menyesal. Jika telah engkau katakan ya, teguhkanlah hati menyempurnakan janji. Sebab memungkiri janji adalah suatu cela yang besar.” 

sumber : Dialog Jumat
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA