Tuesday, 17 Zulhijjah 1442 / 27 July 2021

Tuesday, 17 Zulhijjah 1442 / 27 July 2021

Trump Peringatkan Warga AS Hadapi Kondisi Sulit Corona

Rabu 01 Apr 2020 10:45 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Christiyaningsih

Presiden Donald Trump tiba untuk berbicara kepada pengarahan gugus tugas coronavirus di Rose Garden, Gedung Putih, Washington DC, AS, Ahad (29/3). Gedung Putih memproyeksikan pandemi corona bisa renggut hingga 240 jiwa. Ilustrasi.

Presiden Donald Trump tiba untuk berbicara kepada pengarahan gugus tugas coronavirus di Rose Garden, Gedung Putih, Washington DC, AS, Ahad (29/3). Gedung Putih memproyeksikan pandemi corona bisa renggut hingga 240 jiwa. Ilustrasi.

Foto: AP / Patrick Semansky
Gedung Putih memproyeksikan pandemi corona bisa renggut hingga 240 jiwa

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah memperingatkan warga untuk bersiap menghadapi dua pekan yang sangat menyakitkan. Gedung Putih memproyeksikan bahwa pandemi virus corona dapat merenggut 100 ribu hingga 240 ribu jiwa.

"Saya ingin setiap orang Amerika dipersiapkan untuk hari-hari sulit yang terbentang di depan," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih.

Meski Trump telah menyadari gelombang besar yang dihadapi, dia tetap menyatakan pemerintah telah melakukan penanganan awal yang baik dengan memetakan model yang tepat. Dia pun telah mengumumkan pada akhir pekan untuk memperpanjang pembatasan pertemuan hingga 30 April.

Dikutip dari The Guardian, keputusan tersebut diambil saat para ahli menyatakan antara 100 ribu hingga 240 ribuan orang AS bisa mati karena virus corona. Angka tersebut bahkan bisa terjadi jika negara tetap menerapkan langkah-langkah mitigasi.

Koordinator respons gugus tugas virus corona Gedung Putih, Deborah Birx, mengatakan model menunjukkan skenario kasus terburuk antara 1,5 juta hingga 2,2 juta kematian di AS tanpa mitigasi. Namun, langkah yang diambil dapat mengurangi gunungan korban menjadi bukit. Dia menekankan bahwa jumlahnya bisa lebih rendah jika orang mengubah perilaku mereka.

Birx menunjukkan grafik di mana New York memiliki kasus kumulatif yang paling jauh, diikuti oleh New Jersey, kemudian 48 negara bagian lainnya. Dia menyatakan harapan bahwa menjaga jarak sosial dapat mencegah wabah besar di negara-negara tersebut.

Mitigasi dini memperlambat penyebaran penyakit di Kalifornia dan negara bagian Washington. "Komunitaslah yang akan melakukan ini. Tidak ada peluru ajaib. Tidak ada vaksin atau terapi ajaib. Itu hanya perilaku," ujar Birx.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA