Monday, 22 Syawwal 1443 / 23 May 2022

BI: Net Outflow Pasar Keuangan Rp 145,1 Triliun

Selasa 31 Mar 2020 18:19 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Dwi Murdaningsih

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo.

Foto: Dok. Bank Indonesia
Outflow pasar keuangan terjadi karena kepanikan global.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) menyampaikan pasar keuangan Indonesia masih mencatatkan net outflow karena wabah Covid-19 sejak awal tahun 2020. Secara total year to date (ytd) net outflow yakni sebesar Rp 145,1 triliun.

"Secara (ytd), outflow baik dari saham maupun obligasi, total sebesar Rp 145,1 triliun," kata Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo dalam rilis perkembangan ekonomi BI, Selasa (31/3) melalui siaran langsung di akun Youtube Bank Indonesia.

Baca Juga

Perry menyampaikan, aliran modal keluar atau outflow telah mereda dan sudah mulai ada aliran modal masuk atau inflow. Ini terlihat dari lelang SBN hari ini yang dilakukan oleh Kementerian Keuangan.

Lelang mencatat pencapaian dana masuk sebesar Rp 22,2 triliun, lebih tinggi dari target sebesar Rp 15 triliun. Penawarannya sendiri sebesar Rp 35,5 triliun. Perry menilai, ini bukti bahwa minat beli dari investor masih tinggi.

"Jadi Kemenkeu menangkan lebih besar dari target, artinya, minat investasi ke Indonesia masih relatif tinggi," katanya.

Secara rinci, outflow dari Surat Berharga Negara (SBN) atau obligasi pemerintah yakni sebesar Rp 131,1 triliun dan Rp 9,9 triliun outflow dari saham. Perry mengatakan, sebagian besar outflow terjadi pada periode corona Covid-19 yakni dari 20 Januari-30 Maret.

Total outflow pada periode tersebut sebesar Rp 167,9 triliun. Dengan rincian diantaranya outflow dari SBN sebesar Rp 153,4 triliun dan saham Rp 13,4 triliun.

Perry memastikan bahwa outflow terjadi karena kepanikan global. Tidak peduli negara mana, investor menarik dananya secara simultan dari pasar keuangan global dan ditempatkan ke instrumen yang lebih aman.

"Kepanikan itu yang membuat outflow, tapi dengan langkah stabilisasi dan stimulus fiskal dari semua negara, bisa mereda," katanya.

BI sendiri berkomitmen melakukan stabilisasi di pasar, baik melalui pasar spot, DNDF dan pembelian SBN dari pasar sekunder. Sebagai informasi juga secara (ytd), BI telah beli SBN total Rp 172,5 triliun. Sebesar Rp 166,2 triliun diantaranya merupakan pembelian SBN dari pasar sekunder yang dilepas investor asing.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA