Sunday, 28 Syawwal 1443 / 29 May 2022

Masyarakat Dinilai Semakin Sadar Bahaya Corona

Sabtu 28 Mar 2020 02:06 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: Muhammad Hafil

Masyarakat Dinilai Semakin Sadar Bahaya Corona. Foto: Logo MUI

Masyarakat Dinilai Semakin Sadar Bahaya Corona. Foto: Logo MUI

Bahaya corona semakin disadari oleh masyarakat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Setelah muculnya banyak kasus virus corona atau Covid-19 di Indonesia, umat Islam dinilai telah mematuhi fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang pealaksanaan ibadah di tengah wabah corona. Karena, sudah banyak masjid-masjid yang tidak menyelenggarakan pelaksanaan sholat Jumat, khususnya di daerah-daerah yang rawan penyebaran Covid-19.

Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI, KH Cholil Nafis menilai, umat sudah mulai sadar pentingnya menjaga jiwa, sehingga sekarang banyak masjid yang untuk sementara waktu tidak menggelar sholat Jumat.

Baca Juga

“Artinya masyarakat kita sudah mulai sadar bahwa menjaga jiwa itu lebih utama daripada kita dengan mendapatkan kemasalahatan,” ujar Kiai Cholil saat dihubungi Republika.co.id, Jumat (27/3).

Menurut dia, Fatwa MUI nomor 14 tahun 2020 tersebut telah tersosialisasikan dengan baik ke masyarakat, sehingga umat pun mulai memahami bahwa shalat Jumat itu bisa diganti dengan shalat Dzuhur di rumahnya masing-masing jika membahayakan jiwa.

“Mereka sudah mengerti bahwa Jumatan itu dapat ditinggalkan menjadi shalat dzuhur karena ada uzur, dan sudah mulai tahu betapa pentingnya mengusir Covid-19 dari indonesia harus ada kekompakan kita semua,” ucapnya.

Dihubungi lebih lanjut, Ketua MUI Bidang Fatwa, Prof Huzaema Tahido Yanggo menjelaskan, memang tidak semua masjid mengikuti fatwa MUI tersebut. Karena, menurut dia, fatwa MUI tersebut fleksibel. Artinya, umat Islam yang berada di daerah aman corona tetap bisa melaksankan sholat Jumat.

“Ada yang tetap Jumatan, ada yang tidak. Jadi, ada juga yang tetap Jumatan, tapi orangnya tidak banyak seperti biasanya,” katanya.

Dia menilai, semakin banyaknya masjid  yang tidak menggelar sholat Jumat sebenarnya bukan hanya karena mengikuti fatwa MUI itu saja, tetapi karena masyarakat Indonesia sekarang sudah banyak mengetahui tetang bahaya virus corona, yang sampai sekarang kasusnya sudah mencapai 1.046 dan 87 orang meninggal.

“Jadi itu juga mungkin karena semakin ketahuan siapa yang sakit, karena pasiennya sudah bertambah lagi,” jelasnya.

Sementara itu, Komadan Satgas Bersih-Bersih Masjid dari Dewan Masjid Indonesia (DMI), Tatang Hidayat mengatakan, semakin banyak masjid yang tidak menggelar shalat Jumat menunjukkan bahwa umat Islam sudah semakin sadar untuk selalu memprioritas keselamatan jiwa dan taat terhadap imbauan pemerintah. 

“Itu menunjukkan semakin besarnya kesadaran masyarakat, artinya jamaah dan kaum muslimin tentang memprioritaskan keselamatan dan kesehatan,” ujarnya.

Menurut dia, kegiatan berkumpul saat ini juga telah terbukti menjadi salah satu sebab tersebarnya wabah corona di tengah masyarakat. Karena itu, menurut dia, umat Islam di Indonesia akhirnya banyak yang memilih untuk melaksanakan ibadah di rumahnya masing-masing.

“Berkumpul itu menjadi salah satu sebab terjangkitnya virus Covid-19 ini. Itu yang membuat antara lain perhatian para warga untuk sementara tidak melakukan kegiatan shalat Jumat saat ini. Jadi itu lebih kepada kesadaran,” ucapnya.

Dia mengakui bahwa masih ada masjid-masjid yang tetap menyelenggarakan ibadah shalat Jumat, khususnya di daerah yang cenderung aman dari corona. Namun, menurut dia, masjid-masjid tersebut harus tetap memberikan imbauan kepada jamaahnya untuk tetap waspada terhadap virus corona.

“Memang daerah yang cenderung aman itu boleh, tapi dengan ketentuan. Pertama, harus menjaga jarak, menjaga kebersihan diri, membawa perangkat shalat masing-masing, dan menghindari bersentuhan sesama kawan,” katanya.

Untuk mencegah penyebaran corona, menurut dia, beberapa waktu lalu DMI sendiri telah memberikan stimulasi terkait penyemproran disinfektan kepada Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) yang ada di daerah-daerah. Selain itu, menurut dia, pihaknya juga memberikan edukasi kepada DKM untuk melakukan bersih-bersih masjid secara mandiri.

“Kita melakukan peyemprotan disenfektan di Jakarta itu sebatas stimulan kepada DKM masjid agar kegiatan bersih-bersih masjid itu dilakukan DKM setempat,” ucapnya.

Jumlah masjid di seluruh wilayah Ibu Kota pada saat ini tercatat sebanyak 3.065 masjid. Wakil Ketua Satgas Bersih-Bersih Masjid DMI, Arief Rosyid mengatakan, pada Jumat (27/3) DMI telah melakukan penyemprotan di 700 masjid di Jakarta.

“Hari ini sudah menyemprot di 700-an Masjid di Jakarta, beberapa inisiatif di daerah juga sedang dilakukan. Yang atas koordinasi DMI insyaAllah punya target 10 ribu sampai 20 ribu masjid. Semoga dapat dilakukan juga oleh masyarakat dan pengurus masjid,” jelas Rosyid. 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA