Saturday, 29 Rabiul Akhir 1443 / 04 December 2021

Saturday, 29 Rabiul Akhir 1443 / 04 December 2021

China Larang Semua Pengunjung Asing Masuk

Jumat 27 Mar 2020 14:59 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Dwi Murdaningsih

 Seorang pria dengan seorang gadis muda mengenakan masker berjalan di Tembok Besar Badaling yang hampir kosong, di Beijing, Cina, 26 Maret 2020 (dikeluarkan 27 Maret 2020). China telah membuka kembali bagian Badaling, salah satu bagian turis paling terkenal di Tembok Besar yang ditutup karena wabah virus corona. Sementara kasus baru Covid-19 di China telah menurun, penyakit ini sekarang menyebar secara dramatis ke seluruh dunia.. Sejauh ini telah menewaskan lebih dari 22.000 orang di seluruh dunia. EPA-EFE / ROMAN PILIPEY

Seorang pria dengan seorang gadis muda mengenakan masker berjalan di Tembok Besar Badaling yang hampir kosong, di Beijing, Cina, 26 Maret 2020 (dikeluarkan 27 Maret 2020). China telah membuka kembali bagian Badaling, salah satu bagian turis paling terkenal di Tembok Besar yang ditutup karena wabah virus corona. Sementara kasus baru Covid-19 di China telah menurun, penyakit ini sekarang menyebar secara dramatis ke seluruh dunia.. Sejauh ini telah menewaskan lebih dari 22.000 orang di seluruh dunia. EPA-EFE / ROMAN PILIPEY

Foto: EPA-EFE/Roman Pilipey
Kasus covid-19 baru di China, kebanyakan merupakan imported case,

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- China telah mengumumkan larangan sementara terhadap semua pengunjung asing, termasuk yang memiliki visa atau izin tinggal. Dilansir di BBC, Jumat (27/3), negara ini juga membatasi penerbangan China dan asing ke satu penerbangan per pekan. Penerbangan tidak boleh penuh lebih dari 75 persen.

China melaporkan kasus pertama virus corona covid-19 yang ditransmisikan secara lokal selama tiga hari pada hari Jumat (27/3). Hampir semua kasus baru sekarang datang dari luar negeri. Ada 55 kasus baru di seluruh China pada hari Kamis, 54 di antaranya dari luar negeri.

Kementerian Luar Negeri China mengatakan mereka akan menangguhkan masuknya warga negara asing karena penyebaran Covid-19 yang cepat ke seluruh dunia. Penangguhan ini berlaku untuk orang-orang dengan visa dan izin tinggal, tetapi tidak untuk diplomat atau mereka yang memiliki visa C (biasanya awak pesawat).

Orang-orang dengan kebutuhan kemanusiaan darurat atau mereka yang bekerja di bidang tertentu dapat mengajukan pengecualian. Meskipun aturannya tampak dramatis, banyak maskapai penerbangan asing sudah berhenti terbang ke China. Sejumlah kota pun sudah membatasi kedatangan.

Bulan lalu, misalnya, Beijing memerintahkan semua orang yang kembali ke kota tersebut untuk karantina 14 hari. Meskipun virus muncul di China, negara tersebut sekarang memiliki lebih sedikit kasus daripada AS dan lebih sedikit kematian daripada Italia dan Spanyol.

Ada 81.340 kasus yang dikonfirmasi di China dan 3.292 kematian, menurut Komisi Kesehatan Nasional mengatakan pada hari Jumat (27/3). Secara total, 565 dari kasus-kasus baru yang dikonfirmasi digolongkan sebagai kasus dari luar (imported cases), baik orang asing yang datang ke China, atau warga negara China yang kembali.

Di Hubei, provinsi tempat wabah dimulai, tidak ada kasus baru yang dikonfirmasi atau diduga pada hari Kamis (26/3). Penguncian (lockdown) di ibukota provinsi, Wuhan, yang dimulai pada Januari, akan dilonggarkan pada 8 April.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA