Wednesday, 13 Zulqaidah 1442 / 23 June 2021

Wednesday, 13 Zulqaidah 1442 / 23 June 2021

PBB Prediksi 25 Juta Kehilangan Pekerjaan Sebab Wabah Corona

Jumat 27 Mar 2020 05:54 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Nashih Nashrullah

Jumlah pengangguran akibat wabah Corona diprediksi terus bertambah. Kawasan populer di Berlin, Jerman, Checkpoint Charlie tampak sepi, Rabu (25/3). Jerman melakukan pembatasan kehidupan publik dan meminta warga ada di rumah karena Covid-19.

Jumlah pengangguran akibat wabah Corona diprediksi terus bertambah. Kawasan populer di Berlin, Jerman, Checkpoint Charlie tampak sepi, Rabu (25/3). Jerman melakukan pembatasan kehidupan publik dan meminta warga ada di rumah karena Covid-19.

Foto: AP
Jumlah pengangguran akibat wabah Corona diprediksi terus bertambah.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan, dunia kehilangan lebih dari 25 juta pekerjaan akibat krisis virus Corona, Kamis (26/3).

Perkiraan itu melonjak tajam dari prediksi pekan lalu yang menaruh pada kisaran 5,3 hingga 24,7 juta pekerjaan yang hilang. 

Baca Juga

Direktur Departemen Kebijakan Ketenagakerjaa Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), Sangheon Lee, memprediksi skala pengangguran sementara, PHK, dan jumlah klaim tunjangan pengangguran jauh lebih tinggi dari yang diperkirakan sebelumnya. 

"Kami mencoba memasukkan faktor guncangan besar sementara ke dalam pemodelan estimasi kami. Besarnya fluktuasi jauh lebih besar dari yang diharapkan," katanya.

Sebagai perbandingan, krisis keuangan global 2008-2009 meningkatkan pengangguran global sebesar 22 juta. Virus Corona dipandang akan memberikan dampak yang lebih besar dengan prediksi 25 juta pengangguran. 

Amerika Serikat (AS) yang menjadi salah satu pusat ekonomi dunia sedang terpukul oleh virus Corona. Negara ini melakukan langkah-langkah untuk mengatasi pandemi membuat aktivitas negara terhenti, dengan jumlah warga yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran melonjak menjadi lebih dari 3 juta pekan lalu.  

Kondisi tersebut menghancurkan rekor sebelumnya yang ditetapkan 695 ribu pada tahun 1982. Ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan klaim akan meningkat menjadi 1 juta, meskipun perkiraan tertinggi bisa mencapai 4 juta.  

"Pengangguran sangat sensitif dan fluktuatif dalam menanggapi aktivitas ekonomi, yang cukup mengkhawatirkan dalam pandangan kami," kata Lee.  

Data tersebut ditambahkan ke skenario mengkhawatirkan yang dijabarkan oleh Presiden Federal Reserve Bank of St. Louis, James Bullard. 

Dia memperingatkan bahwa hingga 46 juta orang dari hampir sepertiga dari pekerja AS dapat kehilangan pekerjaan dalam waktu singkat.  

Sedangkan di India, Perdana Menteri Narendra Modi mengumumkan 21 hari penutupan secara nasional mulai pekan ini untuk membendung penyebaran penyakit. Kelompok industri memperingatkan keputusan tersebut akan membuat kehilangan pekerjaan bagi warga mencapai puluhan juta.  

Bendahara Federasi Asosiasi di Pariwisata India dan Perhotelan, Garish Oberoim, mengatakan kelompok perdagangan memperkirakan bahwa sekitar 38 juta pekerjaan dapat hilang di sektor pariwisata dan perhotelan saja. Mereka yang paling terpukul diperkirakan 120 juta buruh migran India.  

Banyak yang tidak mampu membayar sewa atau makanan di kota-kota. Dengan sistem transportasi ditutup, banyak warga sekarang sudah mulai berjalan kaki ratusan kilometer untuk kembali ke desa.  

Wilayah Eropa, seperti Prancis membujuk perusahaan agar tidak memecat karyawan, termasuk melalui skema yang memungkinkan bisnis mengurangi jam kerja tanpa karyawan menerima gaji besar. 

Kementerian Tenaga Kerja mengatakan hampir 100 ribu perusahaan Prancis telah meminta bantuan. Mereka meminta pemerintah untuk mengganti karena menempatkan 1,2 juta pekerja pada jam kerja lebih pendek atau nol sejak virus Corona menyebar.

Di Inggris, pemerintah klaim tunjangan sebanyak  477 ribu orang selama sembilan hari terakhir kepada Universal Credit. Tunjangan itu untuk membantu pembayaran biaya hidup bagi yang menganggur atau berpenghasilan rendah. Yayasan Resolution mengatakan bahwa peristiwa ini peningkatan lebih dari 500 persen dari periode yang sama pada 2019.

"Sentimen di kalangan bisnis mungkin akan membutuhkan lebih banyak waktu untuk kembali ke kegiatan normal. Mereka membuat keputusan cepat untuk menyesuaikan tenaga kerja mereka daripada mempertahankan pekerja," kata Lee.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA