Sunday, 3 Zulqaidah 1442 / 13 June 2021

Sunday, 3 Zulqaidah 1442 / 13 June 2021

Pemerintah Diminta tak Umumkan Kasus Kematian Covid-19

Kamis 26 Mar 2020 16:57 WIB

Rep: Arie Lukihardianti / Red: Agus Yulianto

Gelombang pertama pasien positif virus Corona memasuki Rumah Sakit Huoshenshan di Wuhan, Hubei, China. (Ilustrasi) Rumah Sakit darurat yang didirikan dalam waktu 10 hari ini dibuat khusus bagi korban virus Corona.

Gelombang pertama pasien positif virus Corona memasuki Rumah Sakit Huoshenshan di Wuhan, Hubei, China. (Ilustrasi) Rumah Sakit darurat yang didirikan dalam waktu 10 hari ini dibuat khusus bagi korban virus Corona.

Foto: Xiao Yijiu/Xinhua via AP
CFR tidak mencerminkan probabilitas kematian.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Poly Network (PN), sebuah kelompok peneliti jaringan sosial kualitatif independen dan non-partisan yang berisikan sekelompok akademisi antropologi, sosial politik, dan praktisi teknologi informasi, meminta pemerintah tidak mengumumkan  ratio kasus Corona (Covid-19).

Menurut Direktur PN, Johan Neesken, persentase tingkat Fatalitas atau Case Fatality Rate (CFR) maupun Death Rate sebaiknya tidak diumumkan oleh pemerintah. Pasalnya, CFR maupun Death Rate berpotensi menyesatkan dan dapat disalahtafsirkan untuk kepentingan-kepentingan yang tidak menguntungkan dalam upaya percepatan penanganan wabah Covid-19.

"Lembaga official seperti WHO dan CDC US pun tidak melakukan hal itu," ujar Johan dalam keterangan tertulisnya, Kamis (26/3).

Johan mengatakan, sebagian besar diskusi terkini tentang risiko kematian akibat Covid-19 fokus pada CFR. Dalam kasus terburuk, banyak yang menyesatkan bahwa CFR memberikan jawaban untuk pertanyaan seberapa besar kemungkinan seseorang terinfeksi Covid-19 meninggal karenanya. Menurutnya, meskipun CFR sebagai metrik yang relevan, namun CFR tidak memberi tahu tentang risiko kematian orang yang terinfeksi.

"Itu hanyalah rasio antara jumlah kematian yang dikonfirmasi dari penyakit dan jumlah kasus yang dikonfirmasi (bukan total kasus)," katanya.

Adapun Death Rate, kata dia, sebagai ukuran yang sangat berbeda. Yakni, dihitung dengan membagi jumlah kematian akibat penyakit dengan total populasi seringkali disebut dengan Death Rate.

"Ini penting untuk dibedakan karena sayangnya orang juga terkadang mengacaukan CFR dengan Death Rate," katanya.

Johan mencontohkan, pandemi flu Spanyol pada 1918. Perkiraan yang sering dikutip oleh Johnson dan Mueller (2002) adalah bahwa 50 juta orang meninggal secara global dari pandemi ini dan hal ini menyiratkan bahwa 2,7 persen dari populasi dunia pada saat itu meninggal. 

"Ini berarti death rate adalah 2,7 persen.  Tetapi 2,7 persen sering salah dilaporkan sebagai CFR. Jika faktanya Death Rate adalah 2,7 persen, maka  tingkat CFR jauh lebih tinggi karena tidak semua orang di dunia terinfeksi flu Spanyol," katanya.

CFR yang umum, kata dia, dilaporkan sebagai nilai tunggal bahkan konstanta biologis, juga patut disayangkan. Karena, CFR bukanlah nilai yang terkait dengan penyakit yang diberikan, tetapi sebaliknya mencerminkan  keparahan penyakit dalam konteks tertentu, pada waktu tertentu, dan dalam populasi tertentu.

Kemungkinan seseorang meninggal karena suatu penyakit, kata dia, tidak hanya tergantung pada penyakit itu  sendiri. Tetapi juga  respons sosial dan individu terhadapnya, tingkat dan waktu perawatan yang mereka  terima, serta kemampuan individu yang diberikan untuk pulih dari penyakit itu.

Johan menekankan, infection fatality risk (IFR) lah yang sebenernya mampu memberikan jawaban atas pertanyaan seberapa besar kemungkinan seseorang yang terinfeksi Covid-19 meninggal.

IFR, kata dia, adalah jumlah kematian akibat suatu penyakit dibagi dengan jumlah total kasus. Untuk menghitungnya, dibutuhkan dua metrik, yakni jumlah total kasus dan jumlah total kematian. Namun, untuk Covid-19, jumlah kasus sebenarnya tidak diketahui karena tidak semua orang dites Covid-19.

"Namun, adalah salah jika ada yang menyimpulkan bahwa CFR adalah sama atau bahkan mirip dengan IFR," katanya.

Johan pun kembali menegaskan, bahwa angka CFR tidak  mencerminkan probabilitas kematian. Karena pada waktu yang sama, nilai CFR memberi dua kemungkinan yang saling bertolak belakang. Dapat dipahami bahwa kemungkinan kematian lebih rendah dibandngkan CFR, karena tidak semua orang ditest COVID19. Selain itu, juga dapat dipahami bahwa kemungkinan kematian lebih tinggi dibandingkan CFR, karena beberapa orang yang sedang sakit pada akhirnya akan meninggal karena penyakit tersebut.

"Membandingkan angka CFR akan tepat jika dipahami sebagai perbedaan dalam skala upaya pengujian (COVID19 Test)," katanya. 

Setelah epidemi atau wabah selesai, kata Johan, statistik agregat kasus dan kematian untuk menghitung tingkat fatalitas kasus dapat diandalkan. Namun, selama wabah berlangsung perlu berhati-hati menafsirkan CFR karena hasil (pemulihan atau kematian) dari sejumlah besar kasus juga masih belum diketahui.

"Ini adalah sumber umum untuk misinterpretasi peningkatan CFR pada tahap awal wabah (outbreak)," katanya.

CFR dan date rate, menurut Johan, memang tidak salah, namun berpotensi menyesatkan dan mudah dipolitisasi. Oleh karenanya, pihaknya memberikan sejumlah catatan kepada pemerintah dan lembaga publik, agar upaya percepatan penanganan wabah Covid-19 tidak terhambat. 

Sejumlah catatan tersebut, yakni:

1. Sama sekali tidak mempublish rate tersebut sebagaimana WHO dan CDC US.

2. Menjelaskan kepada masyarakat apa rate tersebut

3. Mengarahkan media agar menghindari penggunaan rate tersebut pada pemberitaan dan analisa-analisanya.

4. Rate tersebut cukup digunakan di otoritas medis dan akademis. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA