Wednesday, 25 Zulhijjah 1442 / 04 August 2021

Wednesday, 25 Zulhijjah 1442 / 04 August 2021

Legislator: Jangan Beri Stigma Negatif pada Tenaga Medis

Rabu 25 Mar 2020 21:27 WIB

Rep: Arif Satrio Nugroho/ Red: Bayu Hermawan

Petugas medis memeriksa kesiapan alat di ruang ICU Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Senin (23/3/2020). Presiden Joko Widodo yang telah melakukan peninjauan tempat ini memastikan bahwa rumah sakit darurat ini siap digunakan untuk karantina dan perawatan pasien Covid-19

Petugas medis memeriksa kesiapan alat di ruang ICU Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Senin (23/3/2020). Presiden Joko Widodo yang telah melakukan peninjauan tempat ini memastikan bahwa rumah sakit darurat ini siap digunakan untuk karantina dan perawatan pasien Covid-19

Foto: Kompas Nasional
Legislator meminta masyarakat tak beri stigma negatif pada tenaga medis Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Anggota Komisi IX DPR, Nabil Haroen meminta masyarakat tidak memberikan stigma terhadap tenaga medis yang merawat pasien wabah virus corona (Covid-19). Menurutnya, para tenaga medis seharusnya mendapat penghargaan bukan diperlakukan buruk.

"Itu jahat menurut saya orang yang memberikan stigma pada tenaga medis," kata Anggota Komisi IX DPR RI Nabil Haroen pada Republika.co.id, Rabu (25/3). 

Baca Juga

Menurutnya, pemberian stigma negatif pada tenaga medis seharusnya tidak perlu ada di tengah kesulitan menghadapi wabah Covid-19 ini. Politikus PDIP  ini menegaskan, tidak logis jika stigma negatif justru dibebankan pada para tenaga medis. 

Pemberian stigma negatif pada pasien Covid-19 saja tidak diperbolehkan, apalagi pada para tenaga medis. Ia mengingatkan, tenaga medis adalah garis terdepan yang menghadapi penyakit, terutama dalam penanganan Covid-19 ini.

"Jadi kalau ada orang yang berstigma negatif pada tenaga medis, berarti orangnya tidak waras. Karena siapa yang mau menolong. Mereka (medis) mau menolong dengan APD yang minim saja sudah bersyukur lho," ujarnya.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Pagar Nusa NU ini juga menyebut, para pemberi stigma pun harus ingat bahwa bila mereka terjangkit Covid-19, maka tenaga medislah yang terdepan dalam menangani mereka. "Sekarang kalau yang membuat stigma itu suatu saat terkena Covid-19 siapa yang mau rawat mereka," katanya.

Nabil menambahkan, justru para tenaga medis harus diberi penghargaan. Terlebih mereka yang sampai kehilangan nyawa dalam menghadapi Covid-19 ini. Ia mengusulkan ke Presiden RI Joko Widodo, agar para tenaga medis yang berjuang di front-line mendapatkan perhatian dan penghargaan setinggi-tingginya berupa tanda jasa kehormatan atau lainnya.

"Sudah selayaknya mereka mendapatkan penghargaan dari negara, atas dedikasi, perjuangan dan pengabdiannya di tengah pandemik Covid-19," ujar Nabil.

Cerita soal stigma negatif pada para tenaga medis ini diungkapkan oleh Ketua Umum Persatuan Perawat Nasional Indonesia Harif Fadhilah. Ia bahkan mengaku mendengar kabar ada tenaga kesehatan terpaksa keluar dari kosan-nya.

"Mengenai stigma, saya baru mendapatkan informasi bahwa ada yang diusir dari kos. Itu tidak hanya terjadi pada perawat melainkan dokter juga," ujar di saat dihubungi Republika.co.id, Senin (23/3).

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA