Tuesday, 21 Safar 1443 / 28 September 2021

Tuesday, 21 Safar 1443 / 28 September 2021

Peraih Emas Olimpiade Dikepung Kematian oleh Covid-19

Sabtu 21 Mar 2020 07:45 WIB

Rep: Lintar Satria Zulfikar/ Red: Israr Itah

Dua atlet Italia, Michela Moioli (kiri) dan Sofia Goggia dalam presentasi Milan-Cortina sebagai kandidat tuan ruamh Olimpiade Musim Dingin 2026. Moioli adalah seorang atlet snowboard sementara Goggia pemain ski es. Keduanya meraih emas Olimpiade Musim Dingin Pyeongchang 2018.

Dua atlet Italia, Michela Moioli (kiri) dan Sofia Goggia dalam presentasi Milan-Cortina sebagai kandidat tuan ruamh Olimpiade Musim Dingin 2026. Moioli adalah seorang atlet snowboard sementara Goggia pemain ski es. Keduanya meraih emas Olimpiade Musim Dingin Pyeongchang 2018.

Foto: EPA-EFE/LAURENT GILLIERON
Keduanya terkunci di rumah mereka masing-masing di Bergamo, utara Italia.

REPUBLIKA.CO.ID, ROMA -- Delapan bulan yang lalu, dua peraih medali emas Olimpiade Musim Dingin Pyeongchang 2018 asal Italia Sofia Goggia dan Michela Moioli berdiri di hadapan 100 anggota komite Olimpiade. Saat itu mereka merasa berada di puncak dunia. Goggia, atlet ski, dan Moioli, seorang snowboarder, berpose untuk menunjukan kegembiraan mereka setelah Milan Cortina ditunjuk sebagai tuan rumah Olimpiade Musim Dingin 2026. 

Kini mereka merasa dunia runtuh. Keduanya terkunci di rumah mereka masing-masing di Bergamo, utara Italia. Kota itu kesulitan untuk mengatasi wabah virus corona yang telah menginfeksi puluhan ribu orang di Negeri Pisa.

Baca Juga

Mereka juga dikepung kematian yang disebabkan pandemi global tersebut. Nenek Moioli meninggal dunia setelah terinfeksi virus yang kini dikenal dengan Covid-19. Kakeknya yang juga positif masih berada di unit gawat darurat.

"Ini perang di rumah, kota ini benar-benar hening. Satu-satunya suara yang Anda dengar hanya bunyi bel gereja yang menandakan kematian dan suara ambulans. Di depan kuburan, peti mati ditumpuk karena tidak ada yang menguburkan mereka," kata Moioli, Jumat (20/3).

Bagi sebagian besar orang virus korona hanya menyebabkan gejala ringan atau sedang seperti demam dan batuk. Tapi bagi sebagian lainnya terutama orang lanjut usia dan penderita penyakit lain dapat menyababkan gejala yang lebih parah termasuk sesak napas. Sebagian besar pasien berhasil pulih.

"Di setiap keluarga setidaknya ada satu orang yang terinfeksi," tambah Moioli.  

Bergamo episentrum wabah di Provinsi Lombardy, tempat ratusan pasien Covid-19 meninggal dunia. Keluarga-keluarga di kota itu tidak dapat mengucapkan selamat tinggal pada orang-orang yang mereka sayangi.

Upacara pemakaman tradisonal dan kuburan dibanjiri jenazah pasien Covid-19. Truk-truk militer membawa jenazah-jenazah itu ke wilayah tetangga untuk dikremasi pekan ini.

"Ini yang kami dengar di rumah kami," cicit Goggia dalam unggahan foto yang memperlihatkan truk-truk militer membawa jenazah-jenazah itu pergi. 

Tahun ini harusnya menjadi masa yang membahagiakan bagi Bergamo. Klub sepak bola mereka, Atalanta, lolos ke perempat final Liga Champions, sebuah prestasi yang luar biasa bagi klub Provinsi Lombardy. Tapi kini Liga Champions pun dihentikan.

"Rumah sakit, terutama di wilayah Bergamo akan hancur berantakan, memikirkan begitu banyak lanjut usia yang menghadapi hari-hari yang sulit menghancurkan hati saya, mereka menghadapi kesepian dan kesedihan yang sangat menghancurkan," tulis Goggia di Instagram.

Namun tampaknya peraih medali emas Olimpiade Musim Dingin Pyeongchang 2018 tidak patah semangat. "Kami harus bertahan," tulis Goggia.

Moioli yang meraih medali emas snowboard cross di Pyeongchang terpaksa meninggalkan rumahnya di dekat Bergamo pada akhir bulan Januari lalu ketika virus mulai menyebar di sana. Ia pindah ke barak militer di Courmayeur agar bisa menghindari karantina dan menyelesaikan musim Piala Dunia.

Pekan lalu ketika ia sudah memiliki gelar Piala Dunia ketiganya, Moioli meraih kemenangan di pertandingan terakhir musim ini di Veysonnaz, Swiss. Dalam wawancara setelah pertandingan ia menangis tersedu-sedu.

Saat itu ia mengatakan kemenangan itu 'untuk kampung halaman saya'. Beberapa hari kemudian neneknya yang bernama Camilla meninggal dunia.

"Pemakamannya hanya lima menit, tidak cukup waktu untuk mengumpulkan seluruh anggota keluarga, sekarang kami berdoa untuk kakek Antonio, ketika ini semua berakhir akan membuat masyarakat Italia lebih baik, orang-orang akan lebih baik, lebih tidak egois," kata Moioli. 

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Michela Moioli (@michela_moioli) on

sumber : AP
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 

BERITA TERKAIT

 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA