Jumat 20 Mar 2020 10:20 WIB

Corona Ganggu Ekonomi, Fitch Turunkan Proyeksi PDB Global

Fitch Ratings memproyeksikan pertumbuhan PDB global tahun ini hanya 1,3 persen

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Nidia Zuraya
Ilustrasi Pertumbuhan Ekonomi(pixabay)
Foto: pixabay
Ilustrasi Pertumbuhan Ekonomi(pixabay)

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON – Lembaga pemeringkat kredit Fitch Ratings menurunkan separuh asumsi pertumbuhan ekonomi global untuk tahun 2020. Revisi ini dilakukan dengan melihat dampak ekonomi dari penyebaran virus corona (Covid-19) terhadap China sebagai ekonomi besar dunia dan 'rembesannya' ke negara lain.

Dalam Global Economic Outlook kuartalan terbarunya yang dipublikasikan, Kamis (19/3) waktu setempat, Fitch Ratings memproyeksikan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) global hanya 1,3 persen. Nilai ini menurun signifikan dibandingkan proyeksi semula yang dirilis Desember, 2,5 persen dan menjadi paling lemah, bahkan jika dibandingkan perlambatan ekonomi pada awal 1990an dan 2001.

Baca Juga

"Tingkat PDB dunia turun. Untuk semua maksud dan tujuan, kita berada di wilayah resesi global," ujar kepala ekonom di Fitch Ratings Brian Coulton, seperti dilansir di situs resmi Fitch Ratings.

Revisi Fitch Ratings membuat PDB global 2020 yang senilai 850 miliar dolar AS menjadi lebih rendah dari perkiraan sebelumnya. Penurunan lebih signifikan akan terlihat apabila langkah lockdown dilakukan secara meluas di semua ekonomi G7 yang terdiri dari Kanada, Prancis, Italia, Jerman, Jepang, Britania Raya dan Amerika Serikat. 

Dalam laporannya, Fitch menggambarkan guncangan terhadap ekonomi China sangat parah. PDB Negeri Panda ini turun lebih dari lima persen pada kuartal pertama tahun 2020 dan turun 1 persen secara year on year.

Secara tahunan, Fitch memproyeksikan, pertumbuhan ekonomi China hanya akan mencapai 3,7 persen sepanjang 2020, turun dibandingkan 6,1 persen pada 2019.

Jatuhnya PDB di Cina hampir tidak pernah terjadi sebelumnya. Berita baiknya, jumlah harian kasus baru Covid-19 di China mulai menurun sangat tajam. Tren ini diharapkan mampu membantu pemulihan ekonomi China pada kuartal kedua 2019.

Namun demikian, dampak gangguan rantai pasok dan permintaan dair China yang lebih rendah ke negara-negara lain akan terus dirasakan secara mendalam untuk beberapa waktu. Khususnya di kawasan Asia lain maupun zona euro.

Selain itu, penyebaran virus yang cepat di luar China telah menyebabkan penurunan tajam terhadap industri pariwisata memgingat acara bisnis maupun liburan dibatalkan. Hal ini seiring dengan kebijakan social distancing yang terus diberlakukan di banyak negara.

Beberapa negara maju lain, terutama Italia dan Spanyol, bahkan kini sudah mulai melakukan lockdown secara agresif, seperti yang dilakukan di China. Fitch menyebutkan, negara-negara ini cenderung mengalami penurunan PDB yang sangat besar dalam beberapa bulan mendatang

Sementara ekonomi Italia diperkirakan turun dua persen, PDB Spanyol hampir satu persen sepanjang tahun. Perkiraan ini dengan asumsi, lockdown terjadi di semua negara Eropa atau AS.

Tapi, bahkan atas asumsi tersebut, fitch memproyeksikan pertumbuhan zona euro menjadi minus 0,4 persen tahun ini. Perkiraan dasar untuk pertumbuhan AS adalah satu persen pada 2020, dibandingkan prospek sebelum ada Covid-19, dua persen.

Gangguan terhadap kegiatan ekonomi yang terlihat di China, dan sekarang di Italia, berada dalam skala dan kecepatan yang jarang terlihat selain pada periode konflik militer, bencana alam maupun krisis keuangan.

Meski masih dipenuhi dengan ketidak pastian, Fitch menilai, penurunan PDB kuartalan dari tiga persen ke lima persen dalam skenario lockdown merupakan proyeksi realistis. Risikonya adalah, gangguan secara mendadak ini terjadi secara bersamaan di semua ekonomi utama ketika pandemi global menyebar.

Dalam laporannya, Fitch juga memproyeksikan penurunan harga minyak dari yang semula 62,5 dolar AS/ barel (diproyeksikan pada Desember) menjadi 41 dolar AS per barel sepanjang tahun 2020 (rata-rata). Dengan runtuhnya kerjasama OPEC+ yang meningkatkan prospek pasokan OPEC, Fitch memperkirakan harga minyak rata-rata 48 dolar AS/ barel pada 2021, turun dibandingkan perkiraan sebelumnya, 60 dolar AS/ barel.

Respon kebijakan makro di tiap negara diumumkan dalam skala besar, mengikuti pedoman yang serupa dengan krisis keuangan global. Langkah yang ditempuh termasuk pemotongan suku bunga agresif, suntikan besar likuiditas bank sentral, pelonggaran makroprudensial dan penciptaan fasilitas pendukung kredit.

Paket relaksasi fiskal skala besar dan pembukaan skema jaminan kredit ratusan miliar dolar AS juga digunakan untuk membantu sektor swasta menahan tekanan saat ini.

Coulton mengatakan, respon kebijakan makro yang cepat dan berskala besar saat ini fokus pada menekan dampak kerusakan dalam jangka pendek. Tapi, pelonggarna kebijakan juga harus membantu menormalkan PDB agar pulih dengan cepqat pada paruh kedua tahun ini dengan asumsi krisis kesehatan mereda," ujarnya.

Tapi, Coulton mengakui, ketidakpastian masih sangat besar. Proyeksi ini hanya tahap awal Fitch untuk mencoba memahami dampak secara penuh dari Covid-19 terhadap ekonomi dunia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement