Jumat 20 Mar 2020 10:02 WIB

IHSG Terpuruk ke Level di Bawah 4.000

Kebijakan BI menurunkan suku bunga acuan tak mampu meredam kejatuhan IHSG

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Nidia Zuraya
Pengendara melintasi layar pergerakan saham di jalan Jenderal Sudirman Jakarta (ilustrasi). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpuruk ke level di bawah 4.000. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)
Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
Pengendara melintasi layar pergerakan saham di jalan Jenderal Sudirman Jakarta (ilustrasi). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpuruk ke level di bawah 4.000. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada akhir pekan anjlok menembus level di bawah 4.000. Pada pukul 09.16, IHSG melemah 171,88 poin atau 4,19 persen ke posisi 3.933,54.

Sementara kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 bergerak turun 33,51 poin atau 5,47 persen menjadi 578,6. Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, mengatakan pergerakan IHSG hari ini mendapat pengaruh dari hasil Rapar Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada Kamis (19/3) kemarin.

Baca Juga

Ditengah tekanan pasar keuangan dan ekonomi yang membuat ketidakpastian akibat penyebaran pandemi Covid-19, BI  mengambil kebijakan moneter dalam pemangkasan suku bunga acuanya. Hasil rapat memutuskan suku bunga acuan diturunkan sebesar 25 basis poin menjadi 4,5 persen.

BI juga memutuskan menurunkan suku bunga Deposit facility sebesar 25 bps jadi 3,75 persen dan suku bunga lending facility turun 25 bps menjadi 5,25 persen. Pemangkasan ini sebagai upaya BI untuk terus memastikan kecukupan likuiditas di pasar baik likuiditas dalam rupiah maupun likuiditas valas.

Nico melihat langkah kebijakan moneter BI sebagai upaya meminimalisir risiko perlambatan ekonomi dan mencegah resesi ekonomi domestik akibat dampak dari penyebaran pandemi Covid-19. "Ini sekaligus mendorong keyakinan pasar terhadap ekonomi Indoensia," kata Nico, Jumat (20/3).

BI juga merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi 2020, baik global maupun nasional. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini diperkirakan menjadi 4,2-4,6 persen dari sebelumnya 5-5,4 persen.  Selanjutnya proyeksi pertumbuhan ekonomi global juga diturunkan dari 3 persen menjadi 2,5 persen.

Menurut Nico, revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi ini akan menjadi perhatian pasar saat ini. Pasalnya, hal tersebut berkaitan pula dengan melambatnya aktivitas diberbagai sektor mulai ekspor, impor, investasi hingga sektor jasa dan pariwisata.

IHSG terkoreksi tajam di tengah menguatnya mayoritas bursa saham regional. Pada pagi ini, Shanghai Composite terpantau menguat tipis 0,73 persen, diikuti Strait Times naik 1,46 persen dan Hang Seng meroket 3,45 persen.

Sementara bursa utama Amerika Serikat, juga menguat pada perdagangan Kamis malam. Indeks Nasdaq memimpin penguatan sebesar 2,30 persen. Sedangkan S&P 500 dan Dow Jones naik tipis masing-masing 0,47 persen dan 0,95 persen.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement