Sabtu 14 Mar 2020 02:45 WIB

Industri Perjalanan Global Terkepung Virus Corona

Maskapai terpaksa memangkas keuntungan karena permintaan turun akibat wabah corona.

Sebuah pesawat Virgin Airways.(Reuters/Louis Nastro)
Foto: Reuters/Louis Nastro
Sebuah pesawat Virgin Airways.(Reuters/Louis Nastro)

REPUBLIKA.CO.ID, CHICAGO -- Dampak dari penyebaran virus corona telah menyebabkan industri global merugi, termasuk sektor penerbangan dan logistik. Perusahaan perjalanan Australia memprediksi penurunan keuntungan sementara perusahaan logistik Jepang memangkas kapasitas angkutnya. Di sisi lain, maskapai Amerika Serikat (AS) memangkas perjalanan ke Eropa sejalan dengan aturan baru.

United Airlines Holdings Inc memperingatkan adanya gangguan perjalaan di AS saat virus corona masuk ke negara tersebut. Tempat-tempat hiburan di Kalifornia dan Florida ditutup, membuat angka pergerakan manusia menurun.

Baca Juga

American Airlines Group Inc menyatakan akan tetap meneruskan perjalanan ke Eropa pada pekan depan. Namun, maskapai akan mengurangi kapasitas hingga 50 persen pada April. Delta Air Lines Inc menyatakan mengurangi jadwal ke Eropa dan terus mengamati permintaan pelanggan.

Sementara, operator bandara Jerman Fraport menyatakan pada Jumat (13/3) bahwa jumlah penumpang di bandara utama Frankfurt turun sekitar 30 persen pada pekan pertama Maret karena virus corona. "Kami berasumsi penurunan tajam volume trafik akan terus berlanjut selama beberapa pekan atau bulan ke depan," ujar CEO Stefan Schulte dalam sebuah pernyataan.

Air France menyatakan akan menyatakan telah mengambil dana bergulir senilai 1,2 miliar dolar AS untuk menopang laporan keuangan. 

The International Air Transport Association (IATA), kelompok industri yang merepresentasikan maskapai penerbangan meminta pemerintah untuk mempertimbangkan perpanjangan jatuh tempo kredit, mengurangi biaya infrastruktur dan memangkas pajak. IATA pada pekan lalu menyatakan kondisi ini dapat menghilangkan 113 miliar dolar AS pendapatan industri penerbangan. Nilai ini belum termasuk kerugian akibat larangan terbang oleh AS.

"Ada kekhawatiran terkait kebangkrutan maskapai pada tahun ini jika melihat dampak virus corona," ujar analis Helane Becker.

Di Australia, sejumlah maskapai terpaksa memangkas keuntungan lantaran minimnya permintaan. Maskapai nomor dua Australia, Virgin Australia, mengatakan menawarkan potongan harga dan memangkas penerbangan dari Sydney ke Los Angeles karena turunnya permintaan perjalanan trans-Pasifik.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement