Jumat 13 Mar 2020 16:51 WIB

Antisipasi Corona, Pemkot Surabaya Tiadakan Sementara CFD

Surabaya meminimalisir kegiatan-kegiatan yang dapat mengumpulkan massa seperti CFD.

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Indira Rezkisari
Ilustrasi Virus Corona. Demi mencegah penyebaran corona, Surabaya meniadakan kegiatan Car Free Day. (MgIt03)
Foto: MgIt03
Ilustrasi Virus Corona. Demi mencegah penyebaran corona, Surabaya meniadakan kegiatan Car Free Day. (MgIt03)

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya meniadakan sementara kegiatan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau Car Free Day (CFD) yang digelar setiap Ahad pagi. Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemkot Surabaya, Ikhsan mengatakan, keputusan tersebut diambil setelah digelarnya rapat koordinasi pada Jum’at (13/3).

Rapat memutuskan ditiadakannya sementara CFD di semua titik di Kota Pahlawan, terkait antisipasi penyebaran virus corona. Ikhsan mengatakan, rapat tersebut dihadiri berbagai elemen terkait. Mulai Tim Penyakit Infeksi Emerging dan Re-Emerging RSUD Dr. Soetomo, dinas-dinas terkait, Polrestabes Surabaya, Polres Tanjung Perak, TNI, dan para camat.

Baca Juga

"Ini merupakan bagian dari kita dalam upaya menjaga kesehatan dan keamanan masyarakat," kata Ikhsan.

Ikhsan mengatakan, tim dokter yang menangani virus corona atau Covid-19 di Surabaya juga merekomendasikan agar meminimalisir kegiatan-kegiatan yang dapat mengumpulkan massa. Namun begitu, pihaknya memastikan akan terus berkoordinasi dengan pihak terkait hingga kegiatan seperti CFD ini dinyatakan aman.

“Kita juga lakukan evaluasi terus, mana yang kegiatan ditunda dan mana yang tetap dilaksanakan," ujar Ikhsan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, Eko Agus Supiadi mengatakan, Car Free Day ditiadakan sementara untuk melindungi warga Surabaya dan mencegah penularan virus corona. Salah satunya yakni dengan meminimalisir kegiatan-kegiatan yang dapat mendatangkan kerumunan massa.

“Nah, ini untuk meminimalisir terkait penyakit Covid-19. Makanya untuk sementara waktu CFD ditiadakan sampai nanti tim dokter menyatakan aman baru dilaksanakan lagi di semua titik,” kata Agus.

Menurutnya, peniadaan CFD sementara ini bukan untuk yang pertama kalinya. Sebab, beberapa waktu lalu, ketika terjadi peristiwa bom dan menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres), Pemkot Surabaya juga sempat meniadakan sementara kegiatan CFD di semua titik.

“Kita beberapa kali meniadakan CFD dan tidak ada masalah. Karena ini demi keamanan dan kesehatan masyarakat Surabaya. Sampai nanti ada kajian lagi yang menyatakan aman,” kata dia.

Peniadaan sementara Car Free Day ini dilakukan di semua titik di Kota Surabaya. Yakni di Jalan Raya Darmo (Taman Bungkul), Jalan Tunjungan, Jalan Jemur Andayani, Jalan Kembang Jepun, dan Jalan Raya Kupang Indah.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, Febria Rachmanita juga mengimbau kepada masyarakat agar tidak perlu panik, tapi tetap waspada terkait merebaknya virus corona. Salah satu yang bisa dilakukan untuk mencegah penularan corona, yakni dengan menghindari atau meminimalisir daerah kerumunan massa.

Febria juga mengingatkan untuk menjaga kebiasaan cuci tangan menggunakan sabun. Menurutnya itu adalah cara yang terpenting dalam mencegah penularan virus corona. Selain itu, ketika mengalami batuk diharapkan agar menutup menggunakan tisu atau sapu tangan.

“Hindari menutup dengan menggunakan tangan, tapi yang terpenting adalah tetap menjaga stamina tubuh, istirahat yang cukup dan menghindari stres,” kata dia.

Ketua Tim Penyakit Infeksi Emerging dan Re-Emerging (Pinere) RSUD dr Soetomo Surabaya, dr. Soedarsono menjelaskan, penularan virus corona bisa terjadi secara tidak langsung maupun langsung. Contohnya secara tidak langsung yakni ketika seseorang berbicara, maka secara tidak sengaja ia bisa mengeluarkan percikan air liur yang kemudian jatuh ke tempat sekitar.

“Dari air liur yang jatuh tersebut secara tidak sengaja kemudian bisa terpegang oleh orang di sekitar dan orang itu tanpa cuci tangan setelah menyentuhnya,” kata Soedarsono.

Sementara itu, lanjut dia, penularan langsung bisa terjadi ketika seseorang berbicara dengan jarak dekat dan percikan air liurnya kemudian mengenai orang di sekitarnya. Karena itu kemudian pihaknya mengimbau agar meminimalisir interaksi di tengah-tengah kerumunan massa.

“Kita kan tidak tahu apakah di kerumunan massa itu ada yang sedang sakit atau tidak,” katanya.

Soedarsono berpesan kepada seluruh masyarakat, khususnya warga Surabaya agar tak perlu panik dan cemas terhadap virus corona. Namun demikian, meski di Surabaya tak ditemukan kasus virus corona, namun masyarakat tetap harus waspada.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement