Sunday, 6 Ramadhan 1442 / 18 April 2021

Sunday, 6 Ramadhan 1442 / 18 April 2021

Kerugian Pariwisata Capai Rp 22 Triliun, dari Mana Terbesar?

Jumat 13 Mar 2020 02:22 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Friska Yolandha

Wisatawan menikmati suasana pagi di Kompleks Candi Prambanan, Sleman, DI Yogyakarta, Ahad (8/3/2020).Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani mencatat, kerugian sektor pariwisata akibat penyebaran virus corona mencapai 1,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp 21,8 triliun (kurs Rp 14.500).

Wisatawan menikmati suasana pagi di Kompleks Candi Prambanan, Sleman, DI Yogyakarta, Ahad (8/3/2020).Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani mencatat, kerugian sektor pariwisata akibat penyebaran virus corona mencapai 1,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp 21,8 triliun (kurs Rp 14.500).

Foto: Antara/Hendra Nurdiyansyah
Kerugian Rp 15,9 triliun merupakan potensi kehilangan dari wisatawan China.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani mencatat kerugian sektor pariwisata akibat penyebaran virus corona mencapai 1,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp 21,8 triliun (kurs Rp 14.500). Besaran tersebut mencakup potensi kehilangan pendapatan sektor selama periode Januari hingga pertengahan Maret.

Hariyadi menjelaskan, sebanyak 1,1 miliar dolar AS (Rp 15,9 triliun) di antaranya merupakan potensi kehilangan dari wisatawan China. Dasar perhitungannya, jumlah wisatawan China ke Indonesia pada tahun lalu mencapai 2 juta orang dengan pengeluaran per orang sekitar 1.100 dolar AS.

"Kita asumsikan separuhnya hilang, itu sudah 1,1 miliar dolar AS," ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (12/3).

Baca Juga

Sementara itu, 400 juta dolar AS lainnya merupakan multiplier effect (efek kelanjutan) dari pembatalan kedatangan turis China ke Indonesia. Misalnya, banyak negara yang ikut membatalkan perjalanan karena takut atau memang sudah dilarang oleh otoritas.

Salah satu dampaknya sudah terlihat di Jakarta. Hariyadi mencatat, tingkat okupansi hotel di Ibu Kota adalah 30 persen. Hal ini menjadi sesuatu yang serius. "Kalau rata-rata sudah 30 tahun atau turun, itu sudah pasti akan mengalami karyawan harus digilir mengingat perusahaan harus mengatur cash flow," tuturnya.

Hariyadi menyebutkan, sampai saat ini pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor pariwisata, khususnya industri hotel dan restoran, memang belum terjadi. Namun, sejumlah hotel sudah mulai menggilir jadwal karyawan tetap, seperti yang dilakukan di Bali. Jasa pekerja harian pun sudah tidak lagi digunakan.

Kondisi serupa juga terjadi di restoran. Hariyadi menjelaskan, restoran lebih banyak menggunakan jasa karyawan kontrak sehingga relatif tidak terlalu rumit dibandingkan hotel. Artinya, mereka dapat lebih bisa beradaptasi dari segi penyesuaian jumlah karyawan.

Dengan tekanan yang ada sejauh ini, Hariyadi pun merevisi target pertumbuhan industri hotel dan restoran. Dari yang biasanya dapat tumbuh 10 hingga 12 persen per tahun, tahun ini industri mungkin hanya mampu tumbuh 5 persen.

"Itu pun kalau ada pembalikan," tuturnya.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA