Monday, 13 Safar 1443 / 20 September 2021

Monday, 13 Safar 1443 / 20 September 2021

Merkel: 70 Persen Populasi Jerman Bisa Terinfeksi Covid-19

Kamis 12 Mar 2020 02:24 WIB

Rep: kamran dikarma/ Red: Hiru Muhammad

Pesawat maskapai Jerman Lufthansa bersiap di landasan pacu Bandara Frankfurt, Sabtu (7/3). Peningkatan kasus corona menambah kekhawatiran pelaku usaha di Jerman akan perlambatan ekonomi.(AP Photo/Michael Probst)

Pesawat maskapai Jerman Lufthansa bersiap di landasan pacu Bandara Frankfurt, Sabtu (7/3). Peningkatan kasus corona menambah kekhawatiran pelaku usaha di Jerman akan perlambatan ekonomi.(AP Photo/Michael Probst)

Foto: AP Photo/Michael Probst
belum ada obatnya, Jerman akan memperlambat penyebaran virus

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN — Kanselir Jerman Angela Merkel memperingatkan 70 persen dari populasi negaranya dapat tertular atau terinfeksi virus korona jenis baru, Covid-19. Jerman diketahui memiliki sekitar 58 juta penduduk.

Peringatan itu disampaikan Merkel saat menghadiri konferensi pers bersama Menteri Kesehatan Jerman, Jens Spahn pada Rabu (11/3). Dia mengatakan, saat ini belum ada obat atau vaksin untuk mengobati pasien Covid-19, pemerintahannya akan fokus memperlambat penyebaran virus. “Ini tentang memenangkan waktu,” kata Merkel, seperti dilaporkan laman BBC.

Dia berjanji akan berupaya semampunya menangani penyebaran wabah Covid-19. “Kami akan melakukan apa yang diperlukan sebagai negara, dan itu juga bersama dengan Eropa,” ujar Merkel. Pada Rabu, Jerman melaporkan kematian ketiga akibat Covid-19. Sejauh ini Jerman telah melaporkan 1.296 kasus Covid-19. 

Pemerintah Kota Berlin telah melarang semua acara publik dengan peserta lebih dari 1.000 orang. Peraturan itu akan berlangsung hingga akhir liburan Paskah. 

“Virus korona terus menyebar. Dalam fase seperti itu, kehidupan publik harus dibatasi. Penyebaran virus korona dapat diperlambat dengan mengurangi acara besar. Pada awal epidemi, pembatasan seperti itu penting,” kata Menteri Kesehatan Kota Berlin, Dilek Kalayci. 

 

sumber : reuters/bbc
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA