Rabu 11 Mar 2020 17:38 WIB

Disperindag Jabar Pastikan Pasokan Gula Segera Masuk

Aprindo pun tidak memiliki stok gula pasir.

Rep: Arie Lukihardianti / Red: Agus Yulianto
Gula pasir(Boldsky)
Foto: Boldsky
Gula pasir(Boldsky)

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG - - Pemprov Jabar  berupaya menjaga ketersediaan gula pasir di tengah merosotnya jumlah persediaan gula di tingkat nasional. Saat ini, kelangkaan gula pasir di lapangan, salah satunya disebabkan kerana impor yang sempat ditutup akibat wabah virus corona di awal tahun.

Menurut Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jabar, Mohamad Arifin Soedjayana, persediaan gula pasir di Jawa Barat masih ada walaupun memang mengalami pengurangan. Hal ini disebabkan juga peningkatan permintaan gula pasir di Jabar.

Menurutnya, Disperindag telah berkoordinasi dan menggelar rapat dengan Kementerian Perdagangan RI untuk menangani penipisan persediaan gula pasir tersebut. Hasilnya, pemerintah akan membuka kembali keran impor gula pasir dan barangnya akan sampai pada akhir Maret 2020.

"Dari hasil kita komunikasi dengan kementerian, izin impor sudah dibuka dan dilaksanakan. Hanya saja, paling akhir Maret barang gula pasir itu baru teridistribusi, untuk yang impor baru ini," ujar Arifin kepada wartawan, Rabu (11/3).

Arifin mengatakan, selama ini, Jawa Barat masih harus menyediakan gula pasir dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, selain gula impor. Untuk sementara, penyediaan gula di masa penipisan persediaannya pun akan mengandalkan pe0rsediaan gula di dua provinsi tersebut.

Angka kebutuhan gula ini, kata dia, memang belum pasti. Hanya kondisinya, di beberapa distributor, posisi stoknya rada kurang dan harganya tinggi, sekitar Rp 17 ribu satu kilogram. "Berapa tonasenya saya belum ada data terbaru, yang pasti menjelang Bulan Ramadan, kebutuhan gula akan meningkat," katanya.

Menurut Arifin, Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia atau Aprindo yang menjadi salah satu pihak yang dapat melakukan stabilisasi harga pun, sudah tidak memiliki stok gula pasir. Hal tersebut dialami juga oleh Bulog.

Disperindag Jabar, kata dia, sudah berkoordinasi dengan sejumlah pabrik gula, seperti Produsen Gula Rajawali yang masih memiliki persediaan gula pasir, untuk menyediakan gula di Jawa Barat.

"Kekurangan persediaan gula ini salah satunya akibat wabah virus corona, memang selama ini ada impor dari Cina. Jadi ini sudah dibuka impornya, mudah-mudahan lah segera teratasi," katanya.

Selain kebutuhan gula yang biasa meningkat saat Ramadan, kata dia, persediaan gula lokal baru bertambah kembali setelah proses penggilingan tebu yang dilakukan pada Juni dan Juli.

Disperindag Jabar pun, telah berkoordinasi dengan satgas pangan dan Produsen Gula Kristal Putih dan mengidentifikasi data stok terakhir yang dimiliki oleh pabrik gula yang berbasis tebu. 

"Per 9 Maret 2020, data stok dilaporkan masih terdapat sebesar 150 ribu ton yang tersebar di Gudang PG di seluruh Indonesia," katanya.

Stok gula tersebut, kata dia, memang sebagian besar sudah dimiliki oleh pedagang. Namun, Satgas Pangan dengan tegas meminta bahwa dalam waktu dua hari gula tersebut harus segera dikeluarkan dari gudang untuk didistribusikan. Pemerintah pusat pun, telah mengadakan rapat lanjutan dengan para Perusahaan Gula yang mendapatkan penugasan untuk mengimpor gula dalam rangka stabilisasi harga. 

"Bapak Dirjen telah meminta agar importir segera merealisasikan izin impor dan mengolahnya menjadi GKP untuk segera disalurkan ke pasar tradisional dan ke ritel modern," katanya.

Menyikapi harga gula yang tinggi dan menipisnya stok, kata dia, Menko Perekonomian RI juga telah memanggil para menteri terkait dan meminta ada tambahan pasokan impor untuk gula. Dalam rapat tersebut telah menyepakati akan ada tambahan pasokan impor sebelum Juni 2020. 

"Untuk itu Kemendag RI akan segera menindaklanjuti. Sesuai perhitungan tambahan impor gula akan mencukupi sampai akhir Juni yang bertepatan dengan perkiraan hasil giling tebu petani sudah siap dipasarkan," katanya. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement