Rabu 11 Mar 2020 12:59 WIB

Keluarga Korban Peringati Setahun Jatuhnya Ethiopia Airlines

Jatuhnya Ethiopian Airlines menewaskan 157 penumpang dan awak.

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini
Foto yang diambil dari video menunjukkan petugas saat jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines, ilustrasi
Foto: AP
Foto yang diambil dari video menunjukkan petugas saat jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines, ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, ADDIS ABABA -- Keluarga korban menghadiri peringatan satu tahun jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines yang menewaskan 157 penumpang serta awak. Acara peringatan tersebut digelar di lokasi jatuhnya pesawat pada Selasa (10/3).

Penumpang pesawat Ethiopian Airlines berasal dari 33 negara, sebagian besar dari mereka bekerja untuk PBB. Ratusan kerabat, teman, dan keluarga dari berbagai negara seperti Amerika Serikat, Ethiopia, Kenya, Uganda, Italia, dan Perancis hadir dalam upacara peringatan di lokasi jatuhnya pesawat, yang terletak sekitar tiga jam dari ibu kota Addis Ababa. 
 
Polisi memasang penghalang jalan sekitar satu kilometer dari lokasi upacara peringatan, untuk mencegah hadirnya masyarakat umum. Rangkaian acara dalam peringatan tersebut antara lain penanaman pohon dan pembacaan nama-nama korban. Sementara itu, kantor PBB di Addis Ababa juga menggelar peringatan serupa. Sejumlah keluarga korban dan kerabat menyalakan lilin di depan karangan bunga untuk menghormati para korban.
 
"Kami trauma sekali. Saya ingin dunia tidak pernah melupakan kecelakaan pesawat yang mengerikan ini. Kecelakaan ini bisa terjadi pada kita semua, dan kami harap ini tidak pernah terjadi lagi," ujar Huguette Debets yang kehilanyan suaminya, Jackson Musoni. 
 
Dalam sebuah acara yang terpisah, karyawan Ethiopian Airlines berkumpul untuk menghormati kolega mereka yang meninggal dunia dalam tugas. Foto-foto para awak pesawat yang meninggal dunia dipasang dan dikelilingi oleh mawar putih sebagai simbol berkabung di Ethiopia. Ayah dari kapten pilot, Getachew Tessema mengatakan, keluarganya sangat bangga ketika putranya diterima bekerja untuk maskapai penerbangan Ethiopian Airlines.
 
"Dia meninggal pada usia 29 tahun. Satu-satunya harapan yang saya miliki adalah bisa bertemu lagi dengan dia di akhirat kelak. Kesedihan ini tidak akan pernah sembuh," ujarnya. 
 
Ethiopian Airlines jatuh setelah enam menit lepas landas. Penyelidikan menyatakan, ada kesalahan sistem pada Boeing 737 Max yang digunakan oleh Ethiopian Airlines. Ini merupakan kecelakaan kedua yang melibatkan 737 Max dalam kurun waktu lima bulan. Pesawat itu kemudian dilarang terbang di seluruh dunia. 
 
Boeing telah mengalami kerugian miliaran dolar sejak kecelakaan Ethiopian Airlines dan Lion Air. CEO Boeing terpaksa mengundurkan diri dan perusahaan menghadapi ratusan tuntutan hukum dari keluarga korban. Laporan sementara dari Biro Investigasi Kecelakaan Pesawat Ethiopia menemukan bahwa kecelakaan terjadi karena ada kerusakaan sistem pada perangkat lunak.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement