Rabu 11 Mar 2020 12:52 WIB

Dampak Corona, BI Hitung Ulang Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia berkisar 2,7-2,8 persen pada tahun ini.

Rep: Novita Intan/ Red: Nidia Zuraya
Pertumbuhan ekonomi(Republika)
Foto: Republika
Pertumbuhan ekonomi(Republika)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) mulai menghitung ulang pertumbuhan ekonomi pada tahun ini. Hal ini menyusul dampak virus corona yang terjadi sejak awal 2020.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, penyebaran virus corona sudah meluas di berbagai negara maju sehingga perlu ada kalkulasi kembali perhitungan ekonomi Indonesia. Diperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih rendah akibat dampak virus corona yang sudah meluas.

Baca Juga

"Pertumbuhan ekonomi memang harus dilihat begitu perang dagang terdampak pada kuartal IV 2019 di bawah lima persen atau sekitar 4,7 persen dan sekarang harus mengkalkulasikan lagi dampak corona. Pada bulan lalu dihitung, kami masih optimistis 4,9 persen. Secara keseluruhan masih bisa 5,1 persen, kalau di push stimulus fiskal dan moneter bisa 5,2 persen," ujarnya saat acara Early Year Forum di Hotel Pullman Thamrin, Jakarta, Rabu (11/3).

"Nanti akan diumumkan Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan ini. Secara keseluruhan ekonomi kita tahan tapi kita harus perkuat sumber ekonominya, sehingga bisa recovery," ucapnya.

Menurutnya, saat ini penyebaran virus corona merambah ke Italia dan Amerika Serikat sehingga mengkhawatirkan pelaku ekonomi dunia. Bank Indonesia pun memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia berkisar 2,7 persen-2,8 persen pada tahun ini.

"Sedikit di bawah dari perkiraan yang disampaikan pada akhir Februari lalu sebesar 3,0 persen karena memang ada gangguan global supply chain dan pertumbuhan di negara-negara maju termasuk Amerika Serikat dan beberapa negara," jelasnya.

Kendati demikian, Perry memastikan BI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan pemerintah tidak akan membiarkan kondisi itu mengganggu gerak perekonomian dalam negeri. Ketiga pihak ini akan terus menelurkan berbagai insentif ataupun stimulus demi meningkatkan optimisme para pelaku usaha.

"Maka salah satu policy-nyakami stabilkan  pasar khususnya stabilitas nilai tukar rupiah, caranya jual dolar AS secara tunai dan Domestic Non Delivery Forward, itu yang kami intensifkan, kami naikkan, masalahnya karena investor asing jualan SBN (Surat Berharga Negara) makanya kami juga beli SBN yang dijual asing," ucapnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement