Sunday, 12 Safar 1443 / 19 September 2021

Sunday, 12 Safar 1443 / 19 September 2021

Lima Jenis Tafakur yang Perlu Diketahui

Rabu 11 Mar 2020 06:14 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Red: Muhammad Hafil

Lima Jenis Tafakur yang Perlu Diketahui. Foto: tafakur(reuters)

Lima Jenis Tafakur yang Perlu Diketahui. Foto: tafakur(reuters)

Foto: reuters
Tafakur bisa dilakukan dengan lima cara.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jumhur ulama atau mayoritas ulama mengatakan bahwa tafakur bisa dilakukan dengan lima cara. Sebagaimana diketahui tafakur artinya merenung, memikirkan, menimbang dan mengheningkan cipta.

Kitab syarah Kasyifah as-Saja Fi Syarhi Safinah an-Naja yang ditulis oleh Syekh Allamah Muhammab bin Umar an-Nawawi al-Banteni menjelaskan lima macam tafakur.

Pertama, tafakur tentang kekuasaan-kekuasaan Allah. Tafakur ini bisa menetapkan penghadapan diri kepada Allah dan meyakini-Nya. Kedua, tafakur tentang kenikmatan-kenikmatan Allah. Tafakur ini bisa menghasilkan rasa cinta kepada-Nya.

Ketiga, tafakur tentang janji Allah. Tafakur ini bisa menghasilkan rasa senang beribadah kepada-Nya. Keempat, tafakur tentang ancaman Allah. Tafakur ini bisa menghasilkan rasa takut kepada-Nya.

Kelima, tafakur tentang kecerobohan diri dari melakukan ketaatan kepada Allah. Tafakur ini menghasilkan rasa malu kepada Allah.

Syekh Ahmad bin Athoillah berkata, termasuk tanda-tanda kematian hati ketika seseorang tidak memiliki rasa susah atau sedih karena ketaatan yang dilewatkan dan ditinggalkan olehnya. Orang tersebut juga tidak memiliki rasa kecewa atas kesalahan dosa yang telah dilakukannya.

Tokoh tarekat Syadziliyah yang terkenal ini juga berkata, rasa sedih karena tidak melakukan ketaatan pada waktu sekarang. Disertai tidak adanya keinginan melakukan ketaatan tersebut di waktu mendatang adalah termasuk salah satu tanda-tanda tertipu atau terpedaya.

Bila mencermati perkataan Syekh Ahmad bin Athoillah, sangat penting bagi seorang Muslim melakukan tafakur. Sehingga bisa merenungkan dan memikirkan perbuatannya yang lalai dan tidak patuh kepada Allah. Supaya ada rasa malu, rasa bersalah dan penyesalan. Kemudian timbul rasa ingin memperbaiki diri.   

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA