Monday, 17 Rajab 1442 / 01 March 2021

Monday, 17 Rajab 1442 / 01 March 2021

2 Pembagian Akhlak Menurut Imam Ghazali dan Penjelesannya

Selasa 10 Mar 2020 23:46 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Imam Ghazali membagi akhlak menjadi dua bagian utama. Santri (Ilustrasi) (Republika/Agung Fatma)

Imam Ghazali membagi akhlak menjadi dua bagian utama. Santri (Ilustrasi) (Republika/Agung Fatma)

Foto: Republika/Agung Fatma
Imam Ghazali membagi akhlak menjadi dua bagian utama.

REPUBLIKA.CO.ID, Akhlak merupakan inti dari bangunan Islam. Imam Al  Ghazali ketika membicarakan tentang akhlak membaginya dalam dua hubungan. Yang pertama, akhlak seorang hamba ketika berhubungan dengan Tuhannya (hablun minallah)

Akhlak yang pertama ini akan menjadikan seorang manusia berjalan di muka bumi dengan kesadaran sebagai seorang abdi atau hamba Allah SWT. Yang kedua adalah akhlak seorang hamba ketika berhubungan dengan sesama manusia (hablun minannas).

Secara sederhana, akhlak yang diadopsi dari bahasa Arab khulq diartikan sebagai perangai, tingkah laku, atau sikap seseorang. Adapun kebanyakan ulama mendefinisikannya sebagai sikap dan tingkah laku yang menyatu pada diri manusia dan membentuk kepribadiannya. Akhlak biasanya terbentuk dalam jangka waktu panjang, melalui proses yang berulang-ulang.

Baca Juga

Akhlak terpuji seperti jujur, berani, tegas, ramah, sabar, kasih sayang, dan dermawan tidak mungkin secara tiba-tiba dimiliki oleh seseorang. Sifat-sifat tersebut melekat dan menjadi karakteristik karena proses penanaman nilai serta pembiasaan yang terus-menerus dari kecil hingga dewasa. Begitupun akhlak tercela.

Karenanya, sangat penting menanamkan dan menjaga kebiasaan-kebiasan terpuji yang dilakukan anak-anak, serta mencegah mereka melakukan dan terbiasa dengan hal-hal yang tercela. Bila sejak dini sudah tertanam sikap-sikap terpuji, di masa depan seseorang akan berakhlak terpuji. Dengan demikian, ia akan dikenal sebagai orang yang berkepribadian dan berkarakter terpuji.

Bila orang-orang yang berakhlak terpuji berkumpul dan menjadi suatu masyarakat, maka mereka disebut sebagai masyarakat yang berakhlak atau berkarakter terpuji. Jika masyarakat berakhlak terpuji itu bersatu menjadi suatu bangsa, bangsa itu pun akan dikenal sebagai bangsa yang berakhlak terpuji.

Demikian juga sebaliknya, jika seseorang berperilaku curang, korup, tidak disiplin, sombong, malas, dan boros, maka ia akan dikenal sebagai seseorang berakhlak tercela. Masyarakat yang di dalamnya terdiri atas orang-orang yang berakhlak tercela, akan disebut sebagai masyarakat berakhlak tercela. Dan, bangsa yang terdiri atas masyarakat yang tercela, bangsanya pun akan dikenal sebagai bangsa tercela pula.

 

 

 

 

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA