Selasa 10 Mar 2020 22:37 WIB

DBD di Sikka Bertambah Jadi 1.216 Kasus

Kasus DBD di Kabupaten Sikka sudah memasuki kejadian luar biasa tahap empat.

Seorang anak menjalani perawatan akibat menderita penyakit demam berdarah dengue (DBD). Ilustrasi
Foto: Antara/Rony Muharrman
Seorang anak menjalani perawatan akibat menderita penyakit demam berdarah dengue (DBD). Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, KUPANG -- Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, melaporkan hingga Selasa (10/3) malam pukul 19.00 Wita, jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) di kabupaten itu sudah bertambah lagi menjadi 1.216 kasus.

"Sampai malam ini laporan terakhir dari seluruh puskesmas dan RS di Kabupaten Sikka, jumlah kasus DBD sudah bertambah, yakni mencapai 1.216 kasus," kata Pelaksana Tugas Kadis Kesehatan Kabupaten Sikka Petrus Herlemus kepada Antara di Maumere, Selasa (10/3) malam.

Ia mengatakan hal itu berkaitan dengan perkembangan terakhir kasus DBD di kabupaten itu yang sudah memasuki kejadian luar biasa tahap empat. Petrus menambahkan bahwa dengan jumlah yang ada maka, telah terjadi penambahan jumlah kasus sebesar 21 kasus dari hari sebelumnya yang jumlahnya hanya mencapai 1.195 kasus.

"Terjadi kenaikan sebesar 21 kasus DBD hingga malam ini, dan ini merupakan kasus DBD terbesar dan terparah dalam sejarah Kabupaten Sikka," tambah dia.

Sementara itu jumlah pasien DBD yang telah meninggal dunia sampai dengan saat ini bertambah menjadi 14 orang dan yang dirawat di sejumlah fasilitas kesehatan di kabupaten itu sudah mencapai 114 orang.

Angka ini mengalami penurunan dari sebelumnya pasien yang dirawat berjumlah 130 orang. Ratusan pasien yang dirawat itu tersebar di tiga RS yakni RSUD TC Hillers, RS Kewapante dan RS Lela.

Pemerintah Kabupaten Sikka hingga saat ini terus berusaha agar kasus DBDsegera mengalami penurunan hingga angka nol. Berbagai usaha yang dilakukan adalah dikeluarkannya instruksi dari Bupati Sikka akan dilakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) selama 14 hari ke depan yang sudah mulai berlaku sejak Senin (9/3) kemarin.

Tak hanya itu, pembagian autan dan pembagian bubuk abate juga terus dilakukan oleh pemda setempat. Namun, kata Kadis Kesehatan, masih dibutuhkan bantuan dari berbagai pihak untuk tambahan autan untuk dibagi-bagikan ke anak-anak di sekolah. Hal ini karena dari 14 orang yang meninggal akibat DBD sebagian besar adalah anak-anak yang berusia 15 tahun ke bawah.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement