Thursday, 20 Rajab 1442 / 04 March 2021

Thursday, 20 Rajab 1442 / 04 March 2021

Muhammadiyah Soroti Tiga Hal Terkait Remaja Bunuh Balita

Senin 09 Mar 2020 22:53 WIB

Rep: Zainur Mahsir Ramadhan/ Red: Muhammad Fakhruddin

Sekretaris Jenderal PP Muhammadiyah, Abdul Muti, saat memberi sambutan pada acara Dzikir Nasional Republika di Masjid At Tin, Jakarta, Selasa (31/12).(Syahruddin El Fikri/Republika)

Sekretaris Jenderal PP Muhammadiyah, Abdul Muti, saat memberi sambutan pada acara Dzikir Nasional Republika di Masjid At Tin, Jakarta, Selasa (31/12).(Syahruddin El Fikri/Republika)

Foto: Syahruddin El Fikri/Republika
Kurangnya pengawasan orang tua dan masyarakat terhadap pendidikan anak.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA – Sekjen PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti menyatakan keprihatinan pihaknya atas pembunuhan yang dilakukan remaja 15 tahun terhadap balita di Jakarta Pusat. Menurut dia, dalam kasus tersebut, ada tiga masalah inti yang diindikasikan.

“Pertama, ada dampak negatif dari teknologi dan media terhadap perkembangan anak dan remaja,” ujar dia kepada Republika, Senin (9/3).

Hal kedua yang menjadi perhatian adalah kurangnya pengawasan orang tua dan masyarakat terhadap pendidikan anak. Selain dari pokok permasalahan ketiga yang ia nilai, yaitu, kurangnya kegiatan kemasyarakatan di kalangan anak dan remaja. “Itu yang menyebabkan mereka lebih banyak berinteraksi dengan gawai dan informasi di dunia maya. Bukan dunia nyata,” tuturnya.

Guru dan tokoh agama, kata dia, perlu untuk mendidik dan melakukan upaya penyadaran lebih terkait pentingnya perhatian serta komunikasi yang intens, dengan anak dan remaja. Bahkan, menurut dia, ustaz dan ulama lainnya juga perlu untuk menekankan pentingnya perhatian dan cara-cara mendidik anak dan remaja.

“Selama ini ceramah agama masih didominasi masalah ritual dan kurangnya aspek pada akhlak dan kecakapan hidup sehari-hari,” ungkap dia.

Dia menegaskan, untuk mencegah kejadian serupa ke depannya, orang tua memiliki peran penting, dengan tidak memberikan gawai pada anak di bawah umur. Sebab, ia menilai ada lebih banyak hal negatif dari pada manfaatnya. “Jika ingin memberikan mainan elektronik, sebaiknya bersifat interaktif dan mendorong kemampuan anak dari segi motorik dan imajinasi yang konstruktif,” ujarnya. 

Menurut dia, hal tersebut akan berguna bagi kegiatan sosial ataupun cara bergaul dengan teman sebayanya.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA