Senin 09 Mar 2020 18:55 WIB

Penurunan Harga Minyak, Pertamina Efisiensikan Produksi

Penurunan harga minyak dunia ini berdampak langsung pada kondisi keuangan Pertamina

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Gita Amanda
Pertamina efisiensikan produksi menyusul penurunan harga minyak dunia.
Foto: borneomagazine.com
Pertamina efisiensikan produksi menyusul penurunan harga minyak dunia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Pertamina (Persero) perlu melakukan efisiensi dalam produksi karena penurunan harga minyak dunia. Sebab, penurunan harga minyak dunia ini berdampak langsung pada kondisi keuangan perusahaan.

Direktur Utama PT. Pertamina (Persero), Nicke Widyawati menjelaskan penurunan harga minyak yang menyentuh angka 35,79 dolar AS per barel memaksa perusahaan melakukan mitigasi resiko. Salah satu caranya adalah dengan melakukan efisiensi kerja pengeboran.

Baca Juga

"Antisipasi kita kan ada hulu ada hilir, untuk hulu memang ini berpengaruh ya karena keekonomian jadi masalah," ujar Nicke di Kementerian ESDM, Senin (9/3).

Direktur Hulu, PT Pertamina (Persero), Dharmawan Samsu menjelaskan efisiensi yang dilakukan sektor hulu dalam pengeboran adalah dengan melakukan efisiensi dan optimalisasi pengeboran. "Jadi gini, dalam kondisi harga minyak kita harus optimalisasi dan efisien dalam bekerja. Contohnya dalam strategi pengadaan misalnya. Strategi logitisk lebih dibuat optimum effosrt untuk biaya produksi turun," ujar Dharmawan.

Selain strategi pengadaan dan logistik, Dharmawan juga menjelaskan perusahaan saat ini lebih proaktif dalam pengadaan rig untuk pengeboran. Sebab, rig merupakan salah satu komponen penting dalam pengeboran dan bisa berpengaruh pada efisiensi produksi.

"Kita lebih proaktif. dan kita empower PDSI supaya rig lebh bagus dan siap. Kita kaji juga buat mereka tambah rig. Buat di onshore dan offshore. Kita lagi kaji mereka beli baru rig," ujar Dharmawan.

Ia menjelaskan saat ini cost production per barel Pertamina bervariasi antara 9 dolar AS per barel hingga 11 dolar AS per barel. Ongkos produksi ini menjadi acuan bagi perusahaan untuk menentukan keekonomian proyek.

Meski penurunan harga minyak sudah menduduki posisi terpuruk sejak 2016, namun Pertamina belum berencana untuk memangkas produksi ataupun menunda pengerjaan proyek. Ia menjelaskan dengan memaksimalkan efisiensi maka perusahaan tidak perlu melakukan langkah sampai memangkas produksi.

"Tidak ada penundaan proyek. Produksi juga gak berubah, masih tetap 411. Untuk target investasi juga belum ada perubahan," ujar Dharmawan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement