Tuesday, 17 Zulhijjah 1442 / 27 July 2021

Tuesday, 17 Zulhijjah 1442 / 27 July 2021

Ganjar Ingin Lab Uji Corona Ada di Jawa Tengah

Jumat 06 Mar 2020 17:08 WIB

Red: Reiny Dwinanda

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo (kiri) mengajarkan cara mencuci tangan dengan benar kepada keluarga pasien yang menjalani observasi terkait virus corona di ruang isolasi di RSUD Margono Sukarjo, Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah, Jumat (6/3/2020). Ia ingin lab uji corona ada di Jawa Tengah.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo (kiri) mengajarkan cara mencuci tangan dengan benar kepada keluarga pasien yang menjalani observasi terkait virus corona di ruang isolasi di RSUD Margono Sukarjo, Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah, Jumat (6/3/2020). Ia ingin lab uji corona ada di Jawa Tengah.

Foto: Antara/Idhad Zakaria
Saat ini, uji corona masih terpusat di Balitbangkes Kemenkes.

REPUBLIKA.CO.ID, PURWOKERTO -- Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo ingin provinsinya memiliki laboratorium yang bisa mendeteksi virus corona jenis baru maupun penyakit lainnya. Dengan begitu, hasil ujinya dapat segera diketahui.

"Ya ini saya juga radha gemes-gemes piye (agak gemas-gemas bagaimana) begitu lho, karena semua itu menjadi lama prosesnya dikirim ke Jakarta," katanya saat mengecek kesiapan ruang isolasi di RSUD Prof Dr Margono Soekarjo (RSMS) Purwokerto, Kabupaten Banyumas, dalam menangani pasien yang diduga terinfeksi virus itu di Banyumas, Jumat.

Ganjar mengatakan hal itu terkait dengan uji laboratorium terhadap sampel swab dari pasien terduga terinfeksi virus corona yang hanya dilakukan oleh laboratorium milik Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan di Jakarta. Alhasil, prosesnya membutuhkan waktu cukup lama.

"Makanya tadi saya minta, nek nggawe dhewe ki piro tho? (kalau bikin sendiri ini berapa biayanya)'. Kemudian saya tanya, sampai Rp 50 miliar enggak kira-kira, kalau enggak 'tak nggawe taun ngarep (saya bikin tahun depan)'," katanya.

Ganjar menjelaskan hal itu akan dilakukan agar di Jawa Tengah mampu menangani pasien virus corona sehingga jika terjadi sesuatu, uji laboratoriumnya bisa ditangani sendiri.

"Kalau SDM-nya (Sumber Daya Manusia) banyak, cukup, turah to, kan kur tuku alat to (sisa, kan cuma beli alat), Insya Allah kecillah," ujarnya.

Ganjar mengatakan, laboratorium tersebut tidak harus di Semarang, karena di Banyumas pun tidak masalah. Buatnya, lokasi tak masalah selama masih di Jawa Tengah.

Menteri Kesehatan RI Terawan Agus Putranto membeberkan alasan penggunaan hanya satu laboratorium Balitbangkes Kemenkes untuk mendeteksi virus corona. Terawan mengatakan banyak pihak mempertanyakan kebijakan atas penggunaan satu laboratorium saja untuk mendeteksi penyebaran virus corona di Indonesia, yang hingga saat ini telah menyebabkan 2.858 orang meninggal dunia tersebut.

"Pasti banyak yang mempertanyakan kebijakan saya, kenapa hanya satu laboratorium yang saya pakai. Kuncinya satu, tidak boleh ada laboratorium yang dipengaruhi oleh kepentingan," katanya di Kota Malang, Jawa Timur, Jumat (28/2).

Selain tidak dipengaruhi kepentingan manapun, laboratorium yang dipergunakan untuk mendeteksi virus corona tersebut juga harus memiliki kemampuan Biosafety Level-3 (BSL-3) dan terakreditasi oleh Badan PBB untuk Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO). Hasil yang telah diteliti oleh laboratorium tersebut, tegas Terawan, harus disampaikan secara jujur, tanpa ada intervensi kepentingan dari pihak manapun. Ia menjamin hasil yang sudah diteliti selama ini, merupakan hasil yang benar.

"Laboratorium harus penuh kejujuran, dan apa adanya, dan bisa dicek. Selain itu, harus memiliki kemampuan BSL-3 dan terakreditasi WHO," ujarnya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA