Saturday, 9 Zulqaidah 1442 / 19 June 2021

Saturday, 9 Zulqaidah 1442 / 19 June 2021

Hanung Bramantyo Bikin Film Pakai Ponsel Pintar

Jumat 06 Mar 2020 14:11 WIB

Red: Nora Azizah

Hanung Bramantyo memanfaatkan kecanggihan kamera ponsel pintar untuk membuat film (Foto: Sutradara Hanung Bramantyo)

Hanung Bramantyo memanfaatkan kecanggihan kamera ponsel pintar untuk membuat film (Foto: Sutradara Hanung Bramantyo)

Foto: dok. UNY
Hanung Bramantyo memanfaatkan kecanggihan kamera ponsel pintar untuk membuat film.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sutradara Hanung Bramantyo memanfaatkan kecanggihan kamera pada ponsel pintar (smartphone) untuk membuat film. Sutradara berusia 44 tahun itu ternyata tidak cuma mengandalkan kamera besar untuk berkarya, di masa lalu ia pernah handycam untuk filmnya.

“Misalnya adegan naik sepeda atau motor, saya harus tangkap gambar jeruji. Kalau saya pakai kamera besar, sepedanya pasti akan oleng,” jelas Hanung di Jakarta, Kamis (5/3).

Pada saat yang sama, dia juga bisa mengambil adegan tersebut dengan kamera besar dari jarak jauh (long shot). Hal ini disebabkan ukuran smartphone yang kecil takkan terlihat dari jauh.

“Jadi bisa mendapat dua gambar sekaligus dalam sekali bidik,” kata dia.

Hanung pun memanfaatkan smartphone untuk adegan ledakan di film Soekarno yang rilis pada 2013 lalu meski fungsinya bukan kamera utama. Dia takjub dengan keunggulan fitur ponsel pintar masa kini yang bisa dimanfaatkan untuk membuat film layar lebar.

“Biasanya second camera, third camera atau fourth camera,” lanjut Hanung.

Salah satunya fitur slow motion yang menurut Hanung bisa dipakai untuk adegan perang, seperti sayatan pedang atau baku hantam. Teknologi saat ini, menurut Hanung, membuat kita tidak punya alasan untuk membuat film itu susah.

Hanung mengenang masa lalu ketika dia mulai membuat film bermodalkan handycam pinjaman. Dia harus bersusah payah mencari peralatan karena belum ada ponsel pintar yang menyediakan fitur canggih. Video direkam di kaset yang ia beli dari teman yang berbisnis membuat video pernikahan.

“Editnya di mana? Di studio kawinannya dia,” kenang Hanung.

Ketika film rampung, ia tak punya banyak pilihan seperti saat ini. YouTube belum jadi pilihan, dan yang bisa dilakukan Hanung adalah mengirimnya ke festival film dari Dewan Kesenian Jakarta. Karyanya keluar jadi juara pertama.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA