Jumat 06 Mar 2020 10:47 WIB

Pendapatan Maskapai Berpotensi Berkurang Drastis Tahun Ini

Pendapatan maskapai global berpotesi berkurang 113 miliar dolar AS akibat corona

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Nidia Zuraya
Ilustrasi penerbangan
Ilustrasi penerbangan

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Epidemi virus corona dapat ‘mengambil’ 113 miliar dolar AS dari pendapatan maskapai penerbangan penumpang sepanjang 2020. Peringatan ini disampaikan sebuah badan industri pada Kamis (5/3).

Chief Executive South Airlines Gary Kelly mengatakan, penurunan drastis terhadap permintaan perjalanan didorong oleh rasa takut. Kondisi ini serupa dengan pasca kejadian serangan di New York dan Washington pada 9 September 2011.

Baca Juga

Dengan kondisi itu, Kelly menuturkan, pihak maskapai tidak dapat berbuat banyak. Memberikan insentif kepada penumpang pun dirasa tidak memberikan dampak besar. "Kami bisa saja mendiskon tiket besok, dan itu tidak akan ada gunanya," ujarnya dalam konferensi penerbangan di Washington, seperti dilansir di Reuters.

Sebelumnya, Kelly mengatakan kepada CNBC, saat kejadian 9 September 2011 atau 9/11, industri penerbangan bukan dihantui oleh masalah ekonomi. Ketakutan masyarakat untuk bepergian menjadi faktor utama perlambatan industri, dan ini yang kembali terjadi saat ini.

"Semoga kita bisa cepat-cepat melaluinya," harap Kelly.

Indeks Dow Jones Indeks Airlines AS ditutup turun 8,6 persen. International Air Transport Association (IATA) memperkirakan, pendapatan yang masuk ke sektor maskapai penerbangan dapat berdampak 63 miliar dolar AS hingga 113 miliar dolar AS. Nilai itu lebih besar tiga kali lipat dibandingkan perkiraan IATA pada dua pekan lalu yang sebesar 29 miliar dolar AS.

Besaran pastinya tergantung pada seberapa besar dan cepat perkembangan virus. IATA menekankan, kedua skenario ini mengasumsikan bahwa adanya pemulihan pada akhir musim panas.

Virus corona (Covid-19) muncul di China pada akhir tahun lalu yang kini sudah menyebar ke lebih dari 80 negara. Pembatasan perjalanan dan perdagangan diberlakukan untuk mengantisipasi penyebaran yang lebih luas.

Covid-19 tercatat menewaskan lebih dari 3.300 orang dan menginfeksi puluhan ribu orang lainnya. Banyak negara khawatir, pandemi ini dapat menjerumuskan ekonomi global ke dalam resesi.

Maskapai di seluruh dunia bergegas memotong tarif tiket penerbangan dan biaya produksi untuk memperbaiki tingkat permintaan. Peringatan terhadap penurunan pendapatan tidak dapat ditampik terus bergaung.

Kepala Ekonom IATA Brian Pearce mengatakan, ada banyak maskapai penerbangan yang mendapatkan margin laba relatif sempit dan banyak mengambil pinjaman sehingga berutang. "Goncangan arus kas seperti ini tentu saja dapat membuat beberapa perusahaan berada dalam siutasi yang sangat sulit," tuturnya, pada acara media di Singapura.

Maskapai regional Inggris, Flybe, menjadi korban besar pertama dari Covid-19 setelah pemerintah Inggris 'meninggalkan' paket stimulus yang disepakati pada Januari. Kondisi ini dikarenakan skala serangan virus yang terlalu besar, sehingga tidak mampu mendongkrak permintaan.

Korea Selatan, Italia dan Iran juga sangat terpengaruh. Jerman, Jepang, Prancis, Spanyol, Amerika Serikat, Singapura dan Hong Kong melaporkan lebih dari 100 kasus.

Sementara itu, Southwest memperingatkan, epidemi dapat ‘menghapus’ hingga 300 juta dolar As dari pendapatan operasional kuartal pertamanya. Beberapa maskapai bahkan membatalkan perkiraan laba mereka untuk 2020, seperti yang dilakukan Norwegian Air.

Norwegian, perintis perjalanan transatlantik berbiaya rendah, telah berjuang selama bertahun-tahun untuk menghadapi persaingan yang ketat dan besarnya hutang selama ekspansi. Sahamnya berakhir 13 persen lebih rendah pada Kamis.

Penyedia data ForwardKeys mengatakan, Kamis, pemesanan penerbangan baru ke Eropa dari tempat lain di dunia turun 79 persen pada pekan terakhir Februari. Penyebabnya, virus corona yang sudah mulai menyerang di tujuan wisata populer seperti Italia.

"Penurunan pemesanan ke Italia bahkan lebih buruk dibandingkan yang kami amati pada tmasa lalu ketika ada peristiwa paling mengganggu terjadi, seperti serangan teror," kata Wakil Direktur ForwardKeys Insight Oliver Ponti.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement