Kamis 05 Mar 2020 17:50 WIB

BPS Targetkan 23 Persen Responden pada Sensus Online

Target dari Sensus Penduduk 2020 online adalah masyarakat yang mobilitasnya tinggi.

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Friska Yolandha
Direktur Sistem Informasi Statistik BPS Muchammad Romzi memantau data sensus penduduk online di kantor Badan Pusat Statistik (BPS), Jakarta, Kamis (5/3).
Foto: Republika/Thoudy Badai
Direktur Sistem Informasi Statistik BPS Muchammad Romzi memantau data sensus penduduk online di kantor Badan Pusat Statistik (BPS), Jakarta, Kamis (5/3).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Pusat Statistik (BPS) menargetkan sebanyak 22,9 persen responden dari Sensus Penduduk 2020 online. Sensus Penduduk online diadakan mulai 15 Februari hingga 31 Maret 2020.

Per Rabu (4/3), jumlah penduduk yang melakukan sensus secara online adalah sebanyak 7,99 juta atau sekitar 2 juta keluarga. Menurut Direktur Sistem Informasi Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) Muchammad Romzi, jumlah tersebut meningkat dua kali lipat dalam dua hari terakhir.

"Memang masih kecil, karena ini kan baru awal. Diperkirakan akan meningkat cepat, dengan milenial berperan penting," kata Romzi kepada Republika.co.id, Kamis (5/3).

Romzi menjelaskan, target dari SP 2020 online adalah masyarakat yang mobilitasnya tinggi dan juga yang tinggal di kawasan pemukiman elit, seperti apartemen dan perumahan mewah. Lokasi tersebut umumnya sulit dijangkau oleh petugas sensus secara door to door.

Selain itu, peran generasi milenial yang diharapkan akan membantu anggota keluarganya untuk mengisi sensus secara online. "Jadi milenial bisa bantu orang tuanya untuk mengisi SP 2020," kata Romzi.

Sosialisasi untuk SP 2020 online ini telah dilakukan secara massif di media sosial, media cetak dan media digital. Selain itu, BPS juga bekerjasama dengan kementerian dan lembaga untuk memastikan seluruh pihak melakukan sensus secara online.

KemenPAN RB merupakan salah satu kementerian yang mewajibkan pegawainya melakukan sensus secara online. Kemudian sebanyak 28 gubernur serta 234 bupati dan walikota telah menggerakkan wilayahnya untuk mengisi sensus online.

Seperti di Bali, pegawai negeri di sana diwajibkan mengisi sensus online kemudian melaporkan bukti partisipasi sensus agar bisa dipantau pemerintah daerah setempat. Di Riau, pemerintah provinsi juga melakukan monitor bagi pegawai negeri untuk mengikuti sensus online.

"Jadi target 23 persen itu optimistis bisa tercapai. Tapi sebenarnya masyarakat yang mobilitas tinggi itu tidak banyak, harapannya bisa selesai di online," ujar Romzi.

Untuk masyarakat yang belum sempat mengisi sensus secara online, petugas sensus akan melakukan sensus secara langsung pada Juli mendatang.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement