Tuesday, 29 Ramadhan 1442 / 11 May 2021

Tuesday, 29 Ramadhan 1442 / 11 May 2021

Saatnya Membangun Sinergi Pemberdayaan

Kamis 27 Feb 2020 16:13 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Yusuf Assidiq

  Seminar Nasional Pra-Muktamar Kemandirian Ekonomi Berbasis Filantropi: Ekosistem Filantropi dan Arsitektur Ekonomi Muhammadiyah di Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Seminar Nasional Pra-Muktamar Kemandirian Ekonomi Berbasis Filantropi: Ekosistem Filantropi dan Arsitektur Ekonomi Muhammadiyah di Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Foto: Wahyu Suryana.
Mulai tahun ini, Lazismu akan mengembangkan filantropi berbasis kewirausahaan.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Prospek dunia filantropi di masa depan sangat potensial. Menurut Direktur Utama Lembaga Zakat Infaq dan Shadaqah Muhammadiyah (Lazismu), Prof Hilman Latief, peluang untuk pemanfaatan filantropi menuju kemandirian ekonomi semakin besar untuk direalisasikan.

Kondisi tersebut dipermudah dengan terbitnya fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang membolehkan dana zakat untuk investasi. "Lazismu sejak tahun lalu sudah meluncurkan program-program baru seperti deklarasi konsep filantro­pre­neurship atau entrepreneur filantropi," kata Hilman, ketika menjadi pembicara dalam Seminar Nasional Pra Muktamar Muhammadiyah, di Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sabtu (15/2).

Ia mengatakan, di lingkungan Muhammadiyah ketika urusan zakat banyak yang sudah takut untuk pemanfaatannya. Biasanya, mereka sekadar membagi-bagikannya kepada fakir miskin, dan masih sangat jarang untuk mengembangkan pe­manfaatannya.

Melihat hal tersebut mulai tahun ini Lazismu akan mengembangkan filantropi berbasis kewirausahaan. Selain itu, ada pula konsep-konsep baru seperti filantropi sosial dan filantropi kapitalis yang tampaknya akan menjadi pembeda.

"Kita harus bangun sinergi pemberdayaan, walaupun satu majelis dengan satu majelis lain tidak selalu satu agenda," ujar Hilman.

Jadi, kata Hilman, pilar-pilar yang selama ini ada seperti pendidikan dan kesehatan bisa ditingkatkan. Itu bisa dilakukan sambil mulai menjajaki bidang-bi­dang yang belum maksimal disentuh Lazismu maupun Muhammadiyah. "Isu pangan salah satunya," kata Hilman.

Menurutnya, seluruh elemen Muhammadiyah harus berani mengembangkan inovasi-inovasi untuk menjawab kebutuhan warga Muhammadiyah dan masyarakat. Sehingga, jangkauan usaha-usaha produktif lebih luas lagi.

Pengembangan program-program da­lam bidang pertanian sudah dilakukan di beberapa daerah. Hilman melihat, ada banyak lagi yang bisa dikembangkan seperti dalam bidang pariwisata, peternakan, dan produk-produk kemanusiaan.

Bahkan, bidang penginapan yang selama ini seperti sulit tersentuh elemen-elemen Muhammadiyah. Karenanya, ia berharap warga Muhammadiyah mampu pula mengembangkan cara pandangnya demi melahirkan inovasi-inovasi baru. "Cara pandang kita perlu berubah, berani untuk tidak selalu bermain aman," ujar Hilman.

Potensi wakaf

Selain zakat, potensi yang tidak kalah besar adalah wakaf. Menurut dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjajaran, Prof Dian Masyita, wakaf produktif lebih membawa potensi pergerakan ekonomi umat. Jadi, bisa dikembangkan skema pengelolaan yang memproduktifkan nilai wakaf. "Jadi, variasinya lebih banyak dan lebih fleksibel," imbuh Dian.

Ia cukup prihatin dari data yang didapat bahwa dari 414 juta hektare potensi tanah wakaf di Indonesia, sekitar  90 persen lebih pemanfaatannya masih kepada makam, masjid, pesantren, dan sekolah Is­lam. Hal ini berbeda dengan negara-negara lain yang sudah mampu memproduktifkan tanah wakaf.

"Selandia Baru misalnya, untuk pengolahan domba saja mereka sudah me­miliki 28 halal processing, 6.000 tempat pemotongan, sekitar 150 ribu domba per hari dikirim ke luar membantu penanganan kemiskinan," ujar Dian.

Menurut Dian, belakangan ini mulai banyak pula lembaga-lembaga di Indonesia yang membidik prospek dari wakaf produktif. Namun ia mengingatkan agar program-program yang ada tidak terkesan monoton, dan tidak kalah penting manfaatnya harus dirasakan lebih banyak masyarakat.

"Apalagi saat ini Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mendukung dengan membuat  program-program yang dapat disinergikan," ujarnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA