Sunday, 5 Sya'ban 1441 / 29 March 2020

Sunday, 5 Sya'ban 1441 / 29 March 2020

AS Lakukan Analisis Paru Pasien Corona, Apa Hasilnya?

Kamis 27 Feb 2020 09:33 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Reiny Dwinanda

 Seorang pria berusia 65 tahun dengan riwayat perjalanan ke Wuhan, China, mengalami demam dan batuk. CT scan diperoleh 11 hari sejak timbulnya gejala menunjukkan penyakit paru sedang dengan kekeruhan perifer di paru-paru (panah).

Seorang pria berusia 65 tahun dengan riwayat perjalanan ke Wuhan, China, mengalami demam dan batuk. CT scan diperoleh 11 hari sejak timbulnya gejala menunjukkan penyakit paru sedang dengan kekeruhan perifer di paru-paru (panah).

Foto: The Mount Sinai Hospital
Tim dokter di AS melakukan analisis terhadap hasil CT scan paru pasien corona.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK — Tim dokter dari Mount Sinai Health System di New York, Amerika Serikat (AS) melakukan analisis CT scan dari pasien yang didiagnosis terinfeksi virus corona jenis baru, Covid-19. Dari sana, mereka mampu mengindetifikasi pola tertentu di paru sebagai penanda dari penyakit yang berkembang seiring waktu.

Menurut tim dokter, wawasan baru yang ditemukan dapat mengarah pada diagnosis yang lebih cepat terhadap pasien yang dicurigai terinfeksi Covid-19. Ini membantu menentukan apakah pasien dengan hasil pemeriksaan yang belum meyakinkan, perlu ditempatkan sementara dalam ruang isolasi.

Temuan tim dokter dicapai dengan mempelajari scan dari 94 pasien di China yang dirawat di empat rumah sakit pada 18 Januari hingga 2 Februari. Sebagian besar pasien diketahui bepergian ke Wuhan. Mereka juga sempat melakukan kontak dekat dengan orang yang terinfeksi virus Covid-19.

Dalam siaran pers, tim mencatat bahwa 36 pasien yang menjalani CT scan pada hari ke-nol dhingga dua hari pelaporan gejala infeksi, lebih dari setengahnya tidak menunjukkan bukti adanya penyakit di paru. Dalam kelompok yang terdiri dari 33 pasien yang menjalani CT scan tiga sampai lima hari setelah melaporkan gejala, tim mengamati adanya pola bercak keruh di permukaan paru yang tampak lebih bulat dalam bentuk padat.

Baca Juga

Pada 25 pasien yang menjalani CT scan antara enam hingga 12 hari setelah melaporkan gejala, para dokter mencatat bahwa gambar yang ditampilkan sepenuhnya melibatkan penyakit paru. Selain itu, mereka mencatat bahwa pola yang ditemukan pada para pasien mirip dengan orang-orang yang terinfeksi virus corona jenis lainnya, yaitu SARS (sindrom pernapasan akut parah) dan MERS (flu unta).

Virus Covid-19 telah menginfeksi lebih dari 81 ribu orang di seluruh dunia dan menimbulkan 2.700 kematian, yang mayoritas terjadi di China daratan. Selain itu, setidaknya 38 negara lain telah melaporkan kasus Covid-19.

Para dokter mencatat bahwa pasien dapat menunjukkan gejala tidak spesifik yang sulit didiagnosis sebagai virus corona jenis baru. Di samping itu, sinar-X juga tidak sebaik CT scan dalam memindai penyakit di paru.

Tim dokter juga mengatakan, tes oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit  AS (CDC) bisa memakan waktu beberapa hari untuk mengonfirmasikan kasus. Fakta itu membuat analisis CT scan dapat menjadi pilihan yang layak untuk pasien yang dicurigai terinfeksi Covid-19. Pendekatan ini juga membantu untuk menentukan pasien mana yang harus ditahan dalam isolasi hingga dinyatakan kondisinya aman.

“Mengenali pola pencitraan berdasarkan perjalanan waktu infeksi sangat penting. Tidak hanya untuk memahami proses penyakit dan riwayat alami Covid-19, tetapi juga untuk membantu memprediksi perkembangan pasien dan potensi komplikasi,” ujar penulis utama dari penelitian, Adam Bernheim, asisten profesor di bidang diagnostik, radiologi molekuler dan intervensi di Icahn School of Medicine di Mount Sinai.

Sementara itu, Zahi Fayad, Direktur Institut Biomedis, Pencitraan, dan Teknik di Icahn School of Medicine di Mount Sinai mengatakan, temuan timnya akan membantu mempercepat penanganan dan perawatan bagi pasien virus corona. Virus corona jenis baru yang dinamakan secara resmi Covid-19 oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) ditemukan pertama kali pada Desember 2019 di Wuhan, ibu Kota Provinsi Hubei, China.

Pada awalnya, orang-orang diduga terinfeksi setelah terpapar virus dari pasar makanan laut Huanan di kota itu. Pasar tersebut diketahui juga menjual hewan-hewan liar dan diyakini menjadi sumber infeksi, salah satunya kelelawar buah.

Covid-19 telah menginfeksi lebih banyak orang dibandingkan sindrom pernapasan akut parah (SARS) dan flu unta (MERS), karena itu jumlah kematian telah melampaui kedua virus tersebut. Wabah SARS tercatat merenggut nyawa 774 orang, sementara MERS menewaskan sedikitnya 828 orang sejak 2012.


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA