Sunday, 3 Zulqaidah 1442 / 13 June 2021

Sunday, 3 Zulqaidah 1442 / 13 June 2021

Hukum Lamaran Nikah dalam Islam (1)

Ahad 23 Feb 2020 21:07 WIB

Rep: Imas Damayanti/ Red: Muhammad Hafil

Hukum Lamaran Nikah dalam Islam. Foto: Pernikahan Ilustrasi

Hukum Lamaran Nikah dalam Islam. Foto: Pernikahan Ilustrasi

Foto: Republika/Prayogi
Terjadi perbedaan pendapat soal hukum lamaran nikah.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA – Mayoritas ulama Islam sepakat bahwa hukum nikah adalah sunnah. Tak hanya hukum nikah, hukum lamaran nikah pun menurut mayoritas ulama adalah tidak wajib. Namun terdapat selisih pendapat mengenai hukum ini.

Mengacu pada kitab Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid karya Ibnu Rusyd disebutkan, terjadinya perbedaan pendapat mengenai hukum lamaran ini lantaran adanya referensi dalil yang menyertainya. Referensi itu berupa tindakan Nabi Muhammad SAW dalam hal ini membuat para ulama berselisih pendapat apakah hukumnya wajib atau kah sunnah.

Baca Juga

Kata As-Syaukani yang mengutip Imam Tirmidzi menyatakan, menurut para ulama dibolehkan menikah tanpa melamar. Pendapat ini berasal dari Sufyan As-Tsauri dan beberapa ulama lainnya. Adapun dalilnya adalah hadits dari Ismail bin Ibrahim yang menunjukkan bahwa hukum lamaran nikah adalah sunnah.

Sedangkan kata Ibnu Qudamah, hukum melamar atau lamaran itu tidak wajib. Kecuali pendapat dari Imam Dawud yang mewajibkannya. Adapun bentuk khutbah nikah ialah seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud. Ibnu Mas’ud bercerita: “Rasulullah SAW mengajarkan kepada kami tasyahud shalat dan tasyahud hajat. Setelah menuturkan tasyahud shalat, Rasulullah SAW bersabda:

‘Innalhamda lilahi nahmaduhu wa nasta’inuhu wa nastaghfirhu wa naudzubillahi min syururi anfusina wa min sayyiati a’malina man yahdihillahu fala mudhilalahu, wa man yudhlil fala hadiyalah. Wa asyhadu an la ilaha illallah wahdahu laa syarikalah, wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluhu,”.

Yang artinya: “Segala puji bagi Allah Tuhan yang kami mintai pertolongan dan kami minta ampunan. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan-kejahatan nafsu kami. Siapa yang ditunjuki oleh Allah, nisacaya tidak akan ada yang bisa menyesatkannya. Dan siapa yang disesatkan oleh Allah niscaya tidak akan ada yang sanggup menunjukkannya ke jalan yang benar. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku pun bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba sekaligus RasulNya,”.

 

sumber : Harian Republika
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA