Sunday, 10 Zulqaidah 1442 / 20 June 2021

Sunday, 10 Zulqaidah 1442 / 20 June 2021

Dari Gus Dur Hingga Emha: Tentang Geger Salam Pancasila

Ahad 23 Feb 2020 04:31 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Santri Jawa mengaji

Foto:
Kontroversi soal salam itu ternyata sudah dari dahulu dan hanya bikin emosi saja.

Namun bagi Ormas Islam munculnya wacana ini walaupun sudah dibantah, tetap dianggap serius. Bahkan bukan lagi dianggap sebagai ‘joke’ atau keselo lidah. Mereka tetap beranggapan itu sebuah hal disengaja sebagai alam pikiran yang selama ini mengendap di alam bawah sadar.

Salah satunya hal itu dikatakanKetua Dewan Syuro Al-Irsyad Al-Islamiyyah Abdullah Jaidi menuturkan, tuntunan agama Islam di dalam Alquran Sunnah Rasulullah, mengajarkan untuk mengucapkan "Assalamualaikum" saat bertemu dengan saudara se-Muslim. Bila dalam konteks sedang berada di suatu forum yang dihadiri banyak kalangan, maka cukup tambahkan "Salam Sejahtera untuk Kita Semua".


"Apabila kita bertemu dengan komunitas yang beragam tentunya tidak ada salahnya selain mengucapkan Assalamualaikum, ditambahkan "Salam sejahtera bagi kita semua", ini sebetulnya sudah cukup memadai," tutur dia kepada Republika.co.id, Sabtu (22/2).

Menurut Jaidi, kondisi seperti itu menunjukkan adanya toleransi keberagaman dalam mengucapkan salam. Sehingga, lanjut dia, tidak perlu lagi ada pembuatan kesepakatan untuk menghasilkan salam yang cakupannya nasional, dalam hal ini Salam Pancasila. Sebab, ucapan seperti "Salam Sejahtera" itu sudah cukup.

"Selama ini kan sudah menjadi kesepakatan bersama yang selama ini sudah kita lakukan. Ya nggak perlu dibuat lagi, buat apa. Cukup salam sejahtera untuk kita semua. Kan ada komunitas Muslim, Kristen, Buddha, Hindu, jadi cukup 'Assalamualaikum, salam sejahtera bagi kita semua', yang sekarang umum dipakai pejabat kita. Itu sudah bagus," tutur dia.

Jaidi menyinggung soal mengapa salam nasional seperti Salam Pancasila ini muncul sebagai sebuah kontroversi. Dia mengutip ungkapan pepatah, bahwa bikinlah sesuatu yang menyelisihi yang tampil beda supaya dikenal orang-orang. Karena menurutnya memang ada manusia yang punya sifat ini.

"Istilah orang sekarang itu nyeleneh, tidak wajar dan tidak umum dengan manusia lain. Jadi melontarkan satu sikap pernyataan, satu arahan, yang berbeda dengan masyarakat pada umumnya. Ada sifat manusia yang seperti itu. Bukan mustahil kalau ada pernyataan seperti itu," ungkapnya.

                     *****

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syafiq A Mughni menuturkan, agama memiliki ajaran tentang bentuk-bentuk salamnya. Menghormati agama, kata dia, berarti harus menghormati salam yang diajarkan oleh setiap agama.

"Di sinilah makna toleransi beragama, yaitu saling menghormati," tutur Guru Besar Sejarah Kebudayaan Islam Fakultas Adab Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya itu.

Syafiq melanjutkan, isi dari salam yang diajarkan oleh Islam, yakni Assalamualaikum, adalah doa dan jaminan keselamatan dari orang yang mengucapkan salam bagi orang lain. "Inilah esensi yang tidak bisa digantikan oleh salam yang sekuler," ucapnya.

Dan MUI pun sudah bersikap. Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Hasanudin AF menuturkan kedudukan mengucapkan salam Assalamualaikum kepada sesama Muslim itu hukumnya Sunnah.  Dan untuk menjawabnya hukumnya wajib. Namun wajib tersebut tidak bersifat wajib ain tapi kifayah.

"Sunnah mengucapkannya tapi jawabnya wajib. Wajib kifayah, kalau misalnya ada sekelompok orang, satupun gak ada yang jawab, itu dosa semua,  Tapi kalau seseorang menjawab salam itu ya bebas dari dosa. Jadi wajib kifayah bukan wajib ain. Jadi minimal salah satu dari mereka harus menjawab salam," kata dia kepada Republika.co.id, Sabtu (22/2).

Namun apa pun itu, soal kontroversi salam itu barang 'jadul' dan persis kaset lagu lama yang kusut tapi berusaha terus diputar. Mudah-mudahan semua ini tak membuat rasa kelelahan rakyat dan batin umat Islam makin meletup. Mudah-mudahan ini juga bukan sebagai sarana untuk melupakan kesulitan ekonomi yang kini terasa mencekik. Pajak naik. Uang semakin susah dicari.

Ingat ya, revolusi dan amuk massa selalu dimulai dari perut. Rusuh karena agama itu hanya soal ikutan. Ibarat sebuah petasan, sumbunya adalah soal agama yang ada di luar. Namun sumber ledakannya itu sebenarnya pada peledak yang ada di dalam mercon, yakni berupa soal kesusahan hidup keseharian.

Pahami juga ya jangan sampai rakyat sudah sangat sabar dengan pedoman 'ngalah', ngalih, jangan sampai 'ngamuk'. Kita semua ingin bangsa ini selamat.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA