Wednesday, 6 Zulqaidah 1442 / 16 June 2021

Wednesday, 6 Zulqaidah 1442 / 16 June 2021

Dari Gus Dur Hingga Emha: Tentang Geger Salam Pancasila

Ahad 23 Feb 2020 04:31 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Santri Jawa mengaji

Foto:
Kontroversi soal salam itu ternyata sudah dari dahulu dan hanya bikin emosi saja.

        ****
Nah, sekarang beredar anggapan ada usaha serupa yakni ingin merubah salam itu dengan ’Salam Pancasila’.  Dahulu tujuannya hendak mempribumikan Alquran. Kini terindikasi ujuannya terhendak meleburkan Islam dengan Pancasila atau tak hendak melawankan agama dengan Pancasila.

Lagi-lagi publik pun geger. Media sosial riuh. Ormas Islam memperhatikanya dengan serius wacana ini sebagai imbas berikutnya dari kontroversi agama lawan terberat negara yang muncul belakangan ini.

Sebenarnya polemik ini pun sudah diklarifikasi oleh pihak yang membuat polemik. Keinginan itu telah dibantah secara tegas. Tak ada sama sekali keinginan untuk menganti salam ‘Assalamulaikum ‘ dengan 'Salam Pancasila'.

Meski begitu harus diakui memang kini ada yang terasa janggal ketika seorang pejabat publik hendak mengawali pidato. Pasti saat itu akan mengucapkan salam dengan berbagai versi dari berbagai agama dan kepercayaan. 'Salam Rahayu'  sampai sampai 'sampurasun' yang khas dari kepercayaan lokal kadang mulai muncul menyelip di telinga publik.

Memang kesan  yang ada pejabat seperti terlihat menghargai semua agama dan kepercayaan rakyat. Tak ada yang dibeda-bedakan dalam sebuah pidato pejabat resmi kenegaraan. Semua dierlakukan adil dari Asalamulaikum, Shalom, Om Santi Om, Salam Kebajkan, Namo Budaya.  Semua disebut: sama rata.

Tapi berbeda dengan itu semua, ada usulan yang mencengangkan dari budayawan sekaligus kiai, Emha Ainun Nadjib. Dia malah berkata sebaliknya. Menurutnya tak usah ketika pejabat hendak pidato ucapkan salam dengan beragam versi. Cukup ucapkan salam sesuai agama keyakinannya. Toh semua ucapan salam tujuannya sama yang damai dan doa semoga semua orang diberikan rakhmat Tuhan.

‘Biarkanlah bebek tetep jadi bebek, sapi tetap jadi sapi, aam tetap jadi ayam. Tak usah paksa bebek berkokok, kambing berkata wek-wek, sapi berkokok, anjing tak usah belajar weik-wek atau melenguh seperti sapi. Biarlah berbahasa sesuai dengan dirinya. Apalagi maksudnya penyampaian salam kedamaian,’’ kata Emha dalam tayangan di Youtube yang menjadi viral. Seperti biasa Emha menyelipkan pesan dengan guraun.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA