Monday, 30 Sya'ban 1442 / 12 April 2021

Monday, 30 Sya'ban 1442 / 12 April 2021

WHO Sebut tak Ada Indikasi Covid-19 di Korut

Rabu 19 Feb 2020 19:48 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Dwi Murdaningsih

China kekurangan pasokan darah akibat corona yang membuat warga terkurung di rumah.

China kekurangan pasokan darah akibat corona yang membuat warga terkurung di rumah.

Foto: Needpix
Media Korsel sebelumnya menyebut ada beberapa kasus corona di Korut.

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, tidak ada indikasi adanya kasus virus korona baru atau Covid-19 di Korea Utara (Korut). Pernyataan itu bertolak belakang dari laporan media Korea Selatan (Korsel) yang menunjukkan wabah telah menyebar ke negara yang terisolasi itu.

"Saat ini tidak ada sinyal, tidak ada indikasi kita berurusan dengan COVID-19 di sana (Korut-red)," ujar kepala program darurat WHO, Mike Ryan, kemarin waktu setempat.

Dia mengatakan, para pejabat WHO tidak memiliki alasan untuk meyakini bahwa ada masalah khusus yang terjadi di Korut. Hal tersebut akan memberi Korut lebih banyak persediaan laboratorium untuk melakukan tes diagnostik.

Beberapa media Korsel sebelumnya melaporkan beberapa kasus dan kemungkinan kematian akibat Covid-19 di Korut. Namun, belum ada verifikasi independen hingga kini mengenai pemberitaan itu.

Pada Selasa, surat kabar resmi partai berkuasa Korut, Rodong Sinmun, mengutip seorang pejabat kesehatan masyarakat yang menegaskan tidak ada kasus yang dikonfirmasi tentang virus korona baru sejauh ini di negara yang dipimpin Kim Jong-un itu. Kendati demikian, seorang mantan diplomat Korut yang membelot ke Korsel pada tahun 2016 mengatakan, kemampuan WHO untuk mengevaluasi situasi di Korut kemungkinan dibatasi oleh pembatasan di negara.

"Tindakan baru-baru ini yang diambil oleh rezim Korut tidak normal," kata mantan diplomat itu, Thae Yong-ho kepada wartawan di Seoul, Rabu.

Menurutnya, pengamat asing seperti yang ada di kantor WHO, sebagian besar terbatas pada lokasi tertentu di ibukota, Pyongyang.

Hingga Rabu (19/2), wabah penyakit telah membunuh lebih dari 2.000 orang di negara tetangga Cina. Para ahli menilai, wabah ini dapat menghancurkan sistem kesehatan yang kekurangan sumber daya di Korut.

Pekan lalu, Departemen Luar Negeri AS mengatakan sangat prihatin tentang dampak dari wabah korona di Korut. AS pun siap untuk memfasilitasi upaya AS sendiri dan organisasi internasional untuk menanggulangi penyebaran virus di sana.

Organisasi bantuan telah menyerukan pembebasan dari sanksi yang membatasi sebagian besar perdagangan dan bisnis dengan Korut. Sudah menjadi salah satu negara paling tertutup di dunia, Korut telah menghentikan penerbangan dan perkeretaapian layanan dengan negara-negara tetangganya.

Korut menetapkan karantina wajib selama sebulan, menangguhkan pariwisata internasional, dan memberlakukan kuncian yang hampir lengkap pada perjalanan lintas batas. WHO telah memprioritaskan bantuan untuk Korut, dan pengiriman persediaan termasuk peralatan pelindung akan dikirim minggu ini.

Ryan mengatakan, pejabat WHO dijadwalkan untuk bertemu dengan delegasi Korut di Jenewa untuk membahas pencegahan. "Pemerintah sangat cemas seperti yang dapat Anda bayangkan, seperti semua pemerintah dalam membuat persiapan dan mencari bantuan teknis dan operasional kami untuk membantu mereka bersiap," kata Ryan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA