Sunday, 27 Ramadhan 1442 / 09 May 2021

Sunday, 27 Ramadhan 1442 / 09 May 2021

Restoran Cepat Saji China Batasi Kontak dengan Pembeli

Senin 17 Feb 2020 10:10 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Christiyaningsih

Gerai restoran cepat saji di China membatasi kontak langsung dengan pembeli. Ilustrasi.

Gerai restoran cepat saji di China membatasi kontak langsung dengan pembeli. Ilustrasi.

Foto: EPA
Gerai restoran cepat saji di China membatasi kontak langsung dengan pembeli

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Gerai restoran cepat saji di China meningkatkan layanan pesan antar untuk menghindari kontak langsung antara pekerja dan pelanggan. McDonald telah menerapkan delivery di seluruh China ketika wabah virus Corona mulai menyebar.

Dalam situs webnya, McDonald menyatakan pelanggan dapat melakukan pemesanan melalui aplikasi. Kemudian, karyawan akan menempatkan makanan di tempat khusus untuk diambil langsung oleh pembeli.

Cara seperti ini dapat menghindari kontak langsung antara pelanggan dan pekerja. Sedangkan untuk layanan delivery, kurir dari McDonald akan menurunkan paket makanan di pintu masuk gedung atau rumah.

"Kami melihat bagaimana meningkatkan proses lebih lanjut, langkah-langkah pencegahan yang ditingkatkan berlaku untuk semua gerai kami," ujar McDonald dalam pernyataan kepada Reuters.

Gerai kedai kopi Starbucks menyarankan pelanggan agar memesan kopi melalui aplikasi. Pelanggan diminta menunggu di luar kedai hingga pesanan mereka selesai. Pesanan kemudian ditempatkan di atas meja di dalam pintu masuk. Starbucks juga memberlakukan pemindaian suhu tubuh kepada pelanggan.

Starbucks secara teratur mensterilkan kontainer dan para pekerjanya. Semua staf kedai kopi itu harus mencuci tangan setiap 30 menit sekali. Selain itu, semua area di kedai Starbucks disterilkan setiap dua jam.

Sejak wabah virus Corona merebak, sebagian besar komplek perumahan membatasi akses keluar masuk pengantar paket. Salah satu penghuni apartemen meminta kurir untuk meletakkan parsel di dalam lift dan menekan tombol sesuai lantai yang dituju. Paket kemudian diambil sendiri oleh penghuni apartemen itu.

"Wabah virus Corona telah mengubah pengiriman makanan tanpa kontak langsung," ujar analis strategi pemasaran di Daxue Consulting di Beijing, Allison Malmsten.

Selama wabah virus Corona berlangsung, bisnis pengiriman makanan merugi karena pelanggan khawatir terinfeksi virus ketika melakukan kontak langsung dengan kurir. Kasus kurir yang terinfeksi virus Corona muncul di Shenzen dan Qingdao.

Malmsten mengatakan banyak kurir yang tidak dapat kembali bekerja karena pembatasan perjalanan. Di sisi lain, kurir lainnya yang tetap bekerja harus menghadapi jam kerja yang panjang. Akibatnya mereka mengalami kelelahan fisik dan mental. Perusahaan pengiriman terbesar kedua di Cina, SF Express telah meningkatkan perekrutan untuk posisi kurir.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA