Tuesday, 6 Syawwal 1442 / 18 May 2021

Tuesday, 6 Syawwal 1442 / 18 May 2021

Pegiat: Perempuan-Anak Eks ISIS Perlu Perlindungan Khusus

Senin 10 Feb 2020 22:15 WIB

Red: Ratna Puspita

Kamp pengungsian Al-Hol di Hassakeh, Suriah yang menampung keluarga anggota militan ISIS.

Kamp pengungsian Al-Hol di Hassakeh, Suriah yang menampung keluarga anggota militan ISIS.

Foto: Reuters
Anak-anak eks ISIS tersebut membutuhkan lingkungan yang mendukung untuk tumbuh.

REPUBLIKA.CO.ID, PURWOKERTO -- Perempuan dan anak asal Indonesia yang sebelumnya menjadi pengikut ISIS harus mendapatkan perlindungan khusus jika dipulangkan ke Tanah Air. Sebab, nanti terkait dengan stigma-stigma masyarakat yang ditempelkan kepada perempuan dan anak-anak ini.

"Apalagi anak-anak ini masa depannya masih panjang," kata Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Korban Kekerasan Berbasis Gender dan Anak Kabupaten Banyumas Tri Wuryaningsih, di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Senin (10/2).

Dalam hal ini, kata dia, anak-anak eks ISIS tersebut membutuhkan lingkungan yang mendukung untuk tumbuh kembang secara optimal sehingga dapat tumbuh menjadi seperti anak-anak yang lain. Dengan demikian, lanjut dia, anak-anak tersebut bisa bersekolah dan tinggal di lingkungan dengan nyaman.

Baca Juga

"Ini bagaimana kemudian pemerintah perlu melakukan upaya-upaya penanganan khusus, mungkin melalui tenaga-tenaga psikolog untuk memberikan penguatan, motivasi, pendidikan juga kepada masyarakat di sekitar karena berkaitan dengan rehabilitasi," kata Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto.

Setelah dipulangkan ke Tanah Air, kata dia, sekitar 600 orang mantan pengikut ISIS asal Indonesia yang sebagian merupakan perempuan dan anak-anak itu akan tinggal di lingkungan masyarakat. Karena itu, lanjut dia, masyarakat juga harus diberikan pemahaman yang cukup terkait dengan mantan pengikut ISIS tersebut.

Dia mengharapkan masyarakat tidak memberikan stigma, tetapi justru ikut membantu supaya mantan ISIS itu bisa hidup di lingkungan secara nyaman dan kemudian tidak terprovokasi oleh gerakan-gerakan seperti ISIS lagi.

Terkait dengan upaya deradikalisasi terhadap para mantan pengikut ISIS, perempuan yang akrab disapa Triwur itu mengatakan upaya tersebut perlu dibedakan antara anak-anak dan dewasa melalui sentuhan-sentuhan atau pendekatan-pendekatan tertentu. "Apalagi untuk anak-anak harus bisa dibedakan dengan orang dewasa karena memang dia mungkin tidak paham, tetapi dia akan mendapatkan dampak dari, misalnya stigma-stigma yang diberikan oleh masyarakat kepada anak tersebut," katanya pula.

Menurut dia, anak-anak tersebut sebetulnya tidak tahu apa-apa, sehingga mereka hanya korban karena terpaksa harus ikut orang tuanya. "Ini yang butuh penguatan-penguatan secara mental dan motivasi dari tenaga-tenaga psikolog mestinya," kata dia menegaskan.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA