Friday, 11 Ramadhan 1442 / 23 April 2021

Friday, 11 Ramadhan 1442 / 23 April 2021

Israel Susun Peta Wilayah Tepi Barat yang Diduduki

Ahad 09 Feb 2020 09:46 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Teguh Firmansyah

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berbicara dalam konferensi pers di el Aviv, Israel, Selasa (10/9). Netanyahu berjanji menganeksasi Tepi Barat jika ia terpilih pekan depan.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berbicara dalam konferensi pers di el Aviv, Israel, Selasa (10/9). Netanyahu berjanji menganeksasi Tepi Barat jika ia terpilih pekan depan.

Foto: AP Photo/Oded Balilty
Wilayah Tepi Barat yang diduduki Israel adalah tanah Palestina.

REPUBLIKA.CO.ID, YERUSALEM -- Israel mulai menyusun pemetaan untuk wilayah Tepi Barat yang diduduki. Peta itu sesuai dengan rencana perdamaian Timur Tengah yang diusulkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

"Kami sudah berada di puncak proses pemetaan area menurut rencana Trump. Ini akan menjadi bagian dari negara Israel," ujar Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Netanyahu mengatakan, pemetaan itu mencakup semua permukiman Israel dan Lembah Yordan yang merupakan wilayah pendudukan Israel sejak perang Timur Tengah pada 1967.

Juru bicara Presiden Palestina Mahmoud Abbas, Nabil Abu Rdainah mengatakan, wilayah Tepi Barat yang diduduki oleh Israel adalah tanah Palestina.

"Satu-satunya peta yang dapat diterima sebagai peta negara Palestina adalah di perbatasan wilayah yang diduduki sejak 1967 dengan Yerusalem sebagai ibukotanya," ujar Rdainah.

Israel akan mengadakan pemilihan nasional pada 2 Maret. Netanyahu saat ini mengepalai pemerintahan sementara.

Para pemukim di Tepi Barat merupakan bagian dari basis pemilih sayap kanan Netanyahu. Dukungan politik dari pemukim itu dibutuhkan Netanyahu untuk memenangkan pemilihan.

Baca Juga

Selain itu, banyak anggota kabinet koalisi Netanyahu yang memandang Tepi Barat sebagai pusat keagamaan orang-orang Yahudi.

Namun sebagian besar negara menganggap pemukiman Israel di tanah yang direbut dalam perang sebagai pelanggaran hukum internasional. Namun Trump telah mengubah kebijakan AS untuk menarik keberatan tersebut. Trump mengakui Yerusalem bagian dari Israel.

Netanyahu mengatakan pemerintahnya akan mulai memperluas kedaulatan Israel ke pemukiman dan Lembah Jordan dalam beberapa hari mendatang.

Palestina dengan tegas menolak rencana perdamaian Trump karena dinilai terlalu berpihak pada Israel. Sementara AS bersikukuh bahwa rencana perdamaian Timur Tengah adalah solusi yang tepat untuk mengakhiri konflik Israel dan Palestina.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA