Sunday, 10 Zulqaidah 1442 / 20 June 2021

Sunday, 10 Zulqaidah 1442 / 20 June 2021

Kematian Dokter Li dan Wabah Corona yang Sempat Dibungkam

Sabtu 08 Feb 2020 05:20 WIB

Rep: Mabruroh/ Red: Teguh Firmansyah

Gelombang pertama pasien positif virus Corona memasuki Rumah Sakit Huoshenshan di Wuhan, Hubei, China. Rumah Sakit darurat yang didirikan dalam waktu 10 hari ini dibuat khusus bagi korban virus Corona.

Gelombang pertama pasien positif virus Corona memasuki Rumah Sakit Huoshenshan di Wuhan, Hubei, China. Rumah Sakit darurat yang didirikan dalam waktu 10 hari ini dibuat khusus bagi korban virus Corona.

Foto: Xiao Yijiu/Xinhua via AP
Dokter Li merupakan orang yang pertama kali memperingatkan virus Corona.

REPUBLIKA.CO.ID, Publik di Cina meradang pascaterungkapnya fakta di balik kematian Dr. Li Wenliang. Mereka marah besar terhadap partai komunis dan kepolisian yang berupaya menutupi wabah virus Corona di awal kemunculannya.

Dr Li meninggal dunia di usianya yang masih 34 tahun. Dr Li meninggal pasca tertular virus Corona dari pasiennya di Rumah Sakit Pusat Wuhan, di mana ia bekerja.

Dr Li juga orang pertama yang merilis informasi mengenai munculnya virus tersebut di media sosial Weibo.

“Dr. Li Wenliang seorang pahlawan yang merilis informasi tentang epidemi Wuhan pertama kali muncul," ujar kepala ilmuwan Pusat Pengendalian Penyakit China, Zeng Guang, menulis pada layanan microblog Sina Weibo.

Seperti dilansir dari ABC News, Dr Li menemukan bahaya virus tersebut pada Desember 2019. Setelah merilis informasi tersebut, Dr Li bersama delapan rekan dokternya dipanggil oleh pihak kepolisian.

Partai Komunis yang paling berkuasa juga turut menghentikan informasi mengenai munculnya wabah virus tersebut di media sosial Weibo yang sudah banyak mendapatkan komentar.

Sebuah unggahan dari rekan kerja Li, yang merupakan seorang perawat ruang gawat darurat, mengatakan, “Bagimu, kami adalah malaikat dan sangat kuat. Tetapi seberapa kuat hati dapat melihat orang-orang di sekitar saya jatuh satu per satu tanpa terkejut?” tulis Li Mengping pada akun terverifikasinya.

Banyak netizen yang lain justru menyalahkan para pejabat Cina. Mereka menyalahkan para pejabat akan kematian Dr. Li. Komentar-komentar online tersebut segera dihapus oleh sistem sensor pemerintah.

Dalam setiap kasus yang merundung Cina, para pejabat dituduh selalu berusaha menyembunyikannya atau menunda informasi tersebut. Seperti kasus wabah SARS pada 2003, tumpahan bahan kimia pada 2005, dan penjualan susu tercemar yang membuat ribuan anak-anak sakit.

Dari kasus-kasus yang coba disembunyikan pejabat China, kini penduduk China menyatakan kesedihannya dan meminta para pejabat agar belajar dari kasus kematian Dr Li.
 
“Dia orang yang baik (dengan berusaha memberikan informasi wabah virus), tetapi masih belum berhasil,” kata Ning Yanqing. “Mereka yang tersisa tidak berani berbicara. Sayangnya, saya tidak tahu harus berkata apa," ujarnya

Komentar-komentar online yang terus bermunculan pada Jumat mengisyaratkan kekecewaan masyarakat Cina terhadap partai dan Presiden Cina Xi Jinping yang menjabat sejak 2012.

Pemerintah Cina menahan dr Li untuk tidak mempublikasikan soal virus tersebut. Bahkan setelah Dr Li yang sempat mengunggah diakun media sosialnya, mereka meminta Dr Li untuk segera menghapus. Li bahkan sempat ditahan kepolisian setelah memberikan peringatan dengan mengunggah keberadaan virus tersebut.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan memuji langkah Cina dalam menangani wabah tersebut dan mengatakan dalam sebuah tweet bahwa mereka turut kehilangan atas meninggalnya Dr Li Wenliang.





Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA