Friday, 8 Zulqaidah 1442 / 18 June 2021

Friday, 8 Zulqaidah 1442 / 18 June 2021

Bukan Hanya Api yang Membunuh Koala di Australia

Ahad 02 Feb 2020 18:22 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini

Petugas bernama Simon Adamczyk menyelamatkan koala yang menjadi korban kebakaran hutan Australia di Pulau Kanguru. Suhu Australia diperkirakan akan kembali melonjak pada Jumat mendatang.

Petugas bernama Simon Adamczyk menyelamatkan koala yang menjadi korban kebakaran hutan Australia di Pulau Kanguru. Suhu Australia diperkirakan akan kembali melonjak pada Jumat mendatang.

Foto: David Mariuz/EPA
Koala mati kelaparan akibat pohon eukaliptus yang jadi habitatnya ditebang.

REPUBLIKA.CO.ID, VICTORIA -- Lusinan koala ditemukan mati atau terluka di sebuah perkebunan di Negara Bagian Victoria, Australia. Temuan itu memicu pihak berwenang Negeri Kangguru menggelar penyelidikan.

Pohon Eukaliptus yang penting bagi habitat koala ditebang saat musim panen bulan Desember lalu. Hanya menyisakan sedikit pohon yang terletak di sisi kebun paling terpencil.  

Baca Juga

Di Australia Eukaliptus biasa disebut sebagai blue gum. BBC melaporkan sejumlah koala mati kelaparan di beberapa pohon yang masih tersisa. Sementara, koala-koala yang lain tampaknya terbunuh oleh buldozer.

Sekitar 80 koala yang berhasil diselamatkan telah dikeluarkan dari perkebunan tersebut dan dirawat. Penemuan itu muncul setelah puluhan ribu koala terbunuh dalam kebakaran hutan di Australia.

Kini Kementerian Lingkungan Australia memasukan koala ke dalam daftar binatang yang 'terancam' punah. Organisasi lingkungan Friends of the Earth Australia mengatakan laporan tentang kematian ratusan koala muncul setelah sebuah perkebunan dipanen bulan Desember lalu.

"Orang-orang tampaknya menyaksikan banyak koala yang tertebas mati oleh buldozer," kata organisasi tersebut, Senin (2/2).

Departemen Lingkungan, Pertahanan, Air, dan Perencanaan mengatakan sedang menyiapkan dakwaan atas kejadian tersebut. Warga lokal Helen Oakley menjadi orang pertama yang melaporkan kejadian itu. Ia mengunggah sebuah video di Facebook.

"Ada koala-koala yang berbaring mati di sana, ibu dan bayinya dibunuh, Australia harusnya malu dengan ini, kami butuh bantuan," kata Oakley.

Organisasi perlindungan hewan Animals Australia mengatakan mereka sudah mengirimkan tim ke lokasi kejadian. Di sana mereka akan berusaha menyelamatkan nyawa koala sebanyak mungkin.

"Dengan bantuan pihak berwenang dan pelindung satwa setempat, dokter hewan berusaha menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa hewan yang berharga, kami mengapresiasi kekhawatiran dari banyak orang yang peduli, tapi mohon diketahui kami membutuhkan lebih banyak lagi sukarelawan," kata Animals Australia di media sosial Instagram.

Animals Australia berjanji akan terus memberitahu perkembangan kasus itu semampu mereka. Organisasi itu menambahkan saat ini mereka sedang mengumpulkan detail apa yang terjadi dalam kasus tersebut.

"Tapi tampaknya ada berbagai pelanggaran undang-undang, termasuk Undang-undang Pencegah Kekejaman terhadap Satwa, yang mana kami akan mendukung pihak berwenang untuk mengejarnya," kata Animals Australia.

Andrew Pritchard dari Departemen Lingkungan Australia mengatakan sekitar 25 koala sudah disuntik mati. Kepada stasiun televisi ABC News, Pritchard mengatakan koala-koala yang selamat akan 'direhabilitas'.

Belum diketahui perusahaan di balik penebangan itu. Menurut industri penebangan pohon-pohon blue gum ditanam pada bulan November lalu dan kontraktor mengikuti protokol yang melindungi satwa.

Namun, Animals Australia mengatakan mereka tengah menyelidiki beberapa pelanggaran hukum. Menurut mereka undang-undang mengharuskan perusahaan yang memiliki perkebunan itu menyediakan 'tempat' bagi koala sebelum melakukan penebangan.

"Jadi binatang-binatang itu dapat dipindahkan secara aman, juga ada pertanggungjawaban hukum untuk memastikan kesejahteraan koala setelah penembangan dihentikan," kata mereka.  

Asosiasi Produk Hutan Australia (AFPA) mengatakan setelah kontraktor pergi sisa pohon yang masih ada dibersihkan. Mereka berjanji untuk menyelidiki peristiwa itu.

CEO AFPA Ross Hampton mengatakan belum diketahui siapa yang menebang pohon ketika koala masih berada di atasnya. Tapi menurut Hampton pelakunya bukan perusahaan perkebunan atau kehutanan.

"Kami mendukung semua orang yang mendorong penegakan hukum terhadap pelaku," kata Hampton kepada surat kabar The Age.

Pada 22 Januari lalu kantor berita Reuters menganalisis banyak hewan hanya ada di Australia terancam punah karena kebakaran hutan. Pemerintah Australia sudah mendeklarasikan kebakaran hutan itu sebagai bencana lingkungan.

Sekitar 1 miliar hewan termasuk ternak dan hewan peliharaan tewas dalam bencana ini. Baik karena kebakaran itu sendiri atau karena sumber makanan dan tempat tinggal mereka hancur.

Kebakaran hutan memang biasa terjadi di Australia. Tapi skala kehancuran kebakaran kali ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Terutama karena diperparah oleh kekeringan panjang dan tingginya suhu udara di sebelah timur negara itu. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA