Monday, 16 Zulhijjah 1442 / 26 July 2021

Monday, 16 Zulhijjah 1442 / 26 July 2021

Khutbah Jumat: Media Penguatan Jati Diri Umat

Ahad 02 Feb 2020 14:12 WIB

Red: Maman Sudiaman

KH. Didin Hafidhuddin

KH. Didin Hafidhuddin

Khutbah Jumat jadi media yang sangat efektif untuk mencerahkan dan mempersatukan umat

REPUBLIKA.CO.ID,Oleh: Didin Hafidhuddin

Wacana penyeragaman Khutbah Jumat yang muncul beberapa waktu yang lalu dari Kantor Kementerian Agama Kota Bandung telah sempat memantik reaksi masyarakat dan tokoh-tokoh agama. Ada yang menyetujuinya dengan argumentasi antara lain untuk menghindari isi Khutbah yang dianggap provokatif, yang dikhawatirkan memecah belah persatuan dan kesatuan umat. Tetapi banyak juga (bahkan sebagaian besar) dari berbagai kalangan, termasuk tokoh agama dan para da’i yang menolak wacana tersebut dan bahkan menyebutkan sebagai wacana yang kontroversial yang sama sekali tidak ada manfaatnya.

Terlepas dari pro dan kontra terhadap wacara tersebut, sebenarnya Khutbah Jumat itu adalah media yang sangat efektif untuk mencerahkan dan mempersatukan umat, serta menguatkan jati dirinya. Para jamaah dilarang berbicara satu sama lainnya ketika Khutbah Jum’at disampaikan. Jika ada yang berbicara (apapun materi pembicaraannya) dianggap ibadah Jum’atnya itu lagha (لغي) yang artinya ibadah yang dianggap sia-sia, tidak memberikan manfaat apapun bagi jamaah tersebut. Para jamaah “harus serius dan sungguh-sungguh” dalam mendengarkan Khutbah Jum’at tersebut, walaupun mungkin dianggap berat atau kurang begitu setuju terhadap materi khutbah yang disampaikannya.

Karena itu, Rasullah SAW telah memanfaatkan Khutbah Jumat ini sebagai media pembinaan dan penguatan umat. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan imam Ibn Majah hadits Nomor 44, Rasulullah SAW bersabda: “Telah menceritakan kepada kami [Suwaid bin Sa'id] dan [Ahmad bin Tsabit Al Jahdari] keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami [Abdul Wahhab Ats Tsaqafiy] dari [Ja'far bin Muhammad] dari [Bapaknya] dari [Jabir bin Abdullah] ia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam apabila sedang berkhutbah matanya menjadi merah, suaranya tinggi dan menggebu-gebu, seakan-akan ia adalah seorang pemberi peringatan pada pasukan (seperti komandan pasukan), beliau berseru: "Waspadalah, musuh akan datang di pagi hari, musuh akan datang di sore hari! " Dan beliau berseru: "Aku diutus dengan datangnya hari kiamat seperti (kedua jari) ini, " beliau menggandengkan antara dua jarinya; jari telunjuk dan jari tengah. Beliau lalu bersabda: "'Amma ba'du; sesungguhnya sebaik-baik perkara adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan, dan setiap bid'ah adalah sesat." Dan beliau selalu bersabda: "Barangsiapa meninggalkan harta, maka bagi ahli warisnya. Dan barang siapa meninggalkan hutang atau amanah maka akulah yang menanggungnya."

Berdasarkan hadits tersebut, jelas sekali bahwa Rasulullah Saw telah menggunakan Khutbah Jumat itu, sebagai media pembinaan umat, agar umat selalu berpegang teguh pada ajaran Allah SWT, kapan dan dimanapun. Umat harus terus menerus tercerahkan oleh ajaran Islam yang disampaikan secara rutin minimal setiap jumat. Melalui khutbah jumat tersebut, Rasulullah Saw juga mengajarkan bahwa dakwah bil lisan harus dipersiapkan dengan baik, agar tepat sasaran sehingga hasilnya bisa optimal.

Sejalan dengan hal tersebut, para Khatib Jum’at bersama dengan para pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), harus mempersiapkan antara hal hal sebagai berikut:
Pertama, para Khatib Jumat harus memiliki Fiqhuddin dan  Fiqhun Naas. Fiqhuddien, dalam pengertian para Khatib Jum’at harus memiliki pengetahuan agama yang luas, yang komprehensif, yang menggambarkan keluasan dan kemencakupan ajaran Islam pada semua bidang kehidupan.

Disamping materi-materi aqidah, syariah dan akhlak, para Khatib juga perlu menyampaikan materi yang berkaitan dengan ekonomi, kebudayaan, pendidikan, politik, kesatuan dan persatuan umat, dan materi penting lainnya. Tentu saja karena keterbatasan waktu, maka Khatib perlu mempersiapkan materinya dengan sebaik-baiknya, singkat, padat dan terarah.
Dalam sebuah hadits riwayat ‘Ammar bin Yasir Radhiyallahu’anhu, Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya panjangnya shalat dan pendeknya khutbah Jum’at merupakan ciri dari kefaqihan seseorang.”

Kedua, Fiqhun Naas, mengandung makna bahwa Khatib Jum’at itu harus mengerti masalah-masalah yang berkaitan dengan kehidupan manusia. Masalah-masalah yang dihadapinya, kecenderungan kecenderungannya serta kebutuhan kebutuhan yang ingin dipenuhinya. Karena itu di dalam mempersiapkan  materi Khutbah Jum’at itu, para Khatib dan para Pengurus DKM harus diberi masukan berasal dari hasil riset tentang perubahan dan perkembangan kehidupan manusia, dan terutama yang berkaitan dengan life style nya atau gaya hidupnya. Sehingga materi Khutbah Jumat itu akan terasa nyambung dan disambungkan dengan kondisi yang dihadapi para jama’ah maupun umat manusia secara keseluruhan. Para Khatib perlu memiliki pengetahuan yang berkaitan dengan psikologi, sosiologi, dan ilmu-ilmu Humaniora lainnya. Inilah salah satu maksud dari dakwah bil hikmah (dakwah dengan argumentasi dan pengetahuan) yang bisa dipertanggungjawabkan. Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nahl [16] ayat 125: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda: “Aku diperintahkan untuk berbicara dengan manusia sejalan dengan akal pengetahuan mereka.”

Sebagai contoh pada saat sekarang umat dan bangsa kita sedang berhadapan dengan kerusakan moral dan akhlak dalam berbagai bidang kehidupan dan dalam berbagai level dan tingkatan. Seyogyanya Khatib menyampaikan tentang penguatan akhlaqul karimah agar masuk ke dalam struktur rohani dan cara berpikir umat, sehingga pikirannya, ucapannya, dan tindakannya senantiasa diikat oleh akhlaqul karimah. Contoh-contoh kehidupan Rasulullah SAW, para sahabat, para ulama salafusshalih, dan tokoh-tokoh bangsa yang sarat dengan akhlaqul karimah perlu disampaikan secara baik, jelas dan gamblang, sehingga kehidupan mereka bisa menjadi suri tauladan bagi jama’ah semuanya.

Atau juga misalnya dakwah yang berkaitan dengan ekonomi umat yang berasaskan kepada nilai-nilai keadilan, kejujuran, keterbukaan, dan tolong-menolong yang sangat bertentangan dengan ekonomi konvensional yang berasaskan kepada Kapitalisme dan Materialisme semata-mata. Umat harus disadarkan melalui Khutbah Jum’at yang kontinyu, bahwa ekonomi syari’ah harus menjadi alternatif bahkan satu-satunya ekonomi yang diimplementasikan dalam kehidupan keseharian umat. Ekonomi ribawi harus dihindari semaksimal mungkin. Karena sistem riba hanyalah akan mengundang adzab dari Allah SWT, karena dianggap melawan pada segala ketentuan-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam Alquran surat Al-Baqarah [2] ayat 278-279: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman (278) Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.”

Demikian pula semangat berta’awun, bersinergi, berkolaborasi, bekerjasama, antara sesama umat harus sering disampaikan dalam Khutbah Jum’at. Karena bersinergi merupakan sebuah kebutuhan sekaligus keniscayaan. Tanpa sinergi tidak mungkin umat ini akan kuat dan tidak mungkin akan mendapatkan rahmat dan pertolongan dari Allah SWT. Perhatikan firman-Nya dalam QS. At-Taubah [9] ayat 71: “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma`ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Wallahu A’lam bi ash-Shawab.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA