Thursday, 13 Rajab 1442 / 25 February 2021

Thursday, 13 Rajab 1442 / 25 February 2021

UMKM Indonesia akan Didorong ke Komoditas Unggul

Sabtu 01 Feb 2020 19:11 WIB

Rep: Inas Widyanuratikah/ Red: Andi Nur Aminah

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki

Foto: Antara/Budiyanto
Sebagian besar usaha UMKM adalah produk keripik, batik, dan akik.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Teten Masduki mengatakan beberapa masalah masih menghantui UMKM di Indonesia. Teten menjelaskan, saat ini sebagian besar usaha di Indonesia masih berada pada sektor mikro dan produk-produk seperti kripik, batik, dan akik masih mendominasi.

Teten mengatakan, ia ingin mendorong masyarakat tidak hanya berusaha di sektor-sektor mikro, namun lebih ke produk unggulan yang juga dibutuhkan dunia. "Produk UMKM kebanyakan hanya kripik, akik, batik. Kalau di situ terus ya enggak mungkin UMKM bisa naik kelas. Maka kita dorong UMKM ke komoditas unggul, seperti tadi buah segar," kata Teten dalam sebuah diskusi di Museum Bank Indonesia, Jakarta Barat, Sabtu (1/2).

Ia ingin, ke depannya UMKM di Indonesia juga bisa berkompetisi dengan produk impor. Apalagi, saat ini produk impor bisa masuk dengan mudah melalui e-commerce. Salah satu hal yang akan menjadi terobosan pemerintah adalah membangun rumah produksi bersama.

Baca Juga

Juga tidak bisa kompetitif dengan produk impor. Apalagi sekarang ini produk impor masuk melalui e-commerce. "Kita mau punya konsep, kita akan dorong UMKM berdasarkan sentra produksi lagi. Kita akan bangunkan rumah produksi bersama. Supaya orang yang tidak memiliki peralatan bisa ke rumah produksi ini. Hanya dengan seperti itu saya pikir kita bisa konsolidasi," kata Teten menjelaskan.

Ia menjelaskan, UMKM merupakan sektor yang menyerap tenaga kerja paling besar di Indonesia. Namun, di bidang ekspor non migas masih sebesar 14,37 persen. Angka tersebut lebih sedikit dari negara tetangga lain seperti China sebesar 70 persen, Korea sebesar 60 persen, Thailand sebesar 60 persen, dan Malaysia 20 persen.

Salah satu masalahnya adalah masih kurang konsolidasinya tiap UMKM. Ia menyontohkan bagaimana petani yang bekerja di lahan yang sempit. Kegiatannya pun masih bersifat individual sehingga tidak bisa menghasilkan sesuatu yang besar.

"Jadi kami sedang memikirkan bagaimana ini konsolidasi, lahan, konsolidasi pelaku, dan subsidi dari pemerintah. Ini belum terkonsolidasi, jadi kita mau pilot project bagaimana petani ini terkonsolidasi," kata Teten.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA