Tuesday, 18 Rajab 1442 / 02 March 2021

Tuesday, 18 Rajab 1442 / 02 March 2021

Kehidupan Warga Wuhan di Tengah Isolasi

Jumat 31 Jan 2020 11:36 WIB

Red: Indira Rezkisari

Wanita mengenaka masker di Hong Kong, Jumat (31/1). WHO sudah mendeklarasikan darurat kesehatan bagi corona yang bermula Kota Wuhan, China.

Wanita mengenaka masker di Hong Kong, Jumat (31/1). WHO sudah mendeklarasikan darurat kesehatan bagi corona yang bermula Kota Wuhan, China.

Foto: AP
Korban jiwa akibat corona yang bermula di Wuhan sudah mencapai 213 orang.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Puti Almas

Media sosial telah menjadi sebuah harapan bagi banyak warga di Wuhan serta hampir seluruh wilayah di Provinsi Hubei, China, yang berada di tengah isolasi. Wabah virus corona jenis baru yang terjadi membuat tindakan mengurung para penduduk menjadi pilihan oleh pemerintah di negara itu untuk mengendalikan penyebaran penyakit yang sangat dikhawatirkan masyarakat dunia.

Virus corona jenis baru yang pertama kali muncul di Wuhan, ibu kota Provinsi Hubei sejauh ini dilaporkan telah membunuh 213 orang. Sebanyak 50 juta orang di China kini berada di karantina alias tidak diperbolehkan keluar kota, bahkan rumah demi menghindari penyebaran corona.

Orang-orang yang harus berada dalam isolasi di kota dan wilayah tersebut pada akhirnya membagikan cerita tentang kehidupan mereka, yang dimulai setelah pengurungan dilakukan. Dengan tagar #lockdowndiary masyarakat berbagi cerita mereka di media sosial Weibo, yang mirip dengan Twitter di China.

Para penduduk menuturkan pengalaman di tengah isolasi yang terjadi. Beberapa juga membagikan pesan-pesan melalui jaringan khusus untuk menghindari pembatasan internet yang dilakukan di daratan China.

Salah satu video menarik mengenai isolasi di Wuhan datang dari seorang vlogger bernama Luo Bin. Ia membagikan cerita di kota tempat tinggalnya tersebut melalui  Youtube, meski pembatasan dilakukan untuk jejaring sosial itu. Bin, yang terkenal membuat video tentang gawai dan travel (perjalanan), kini membagikan konten berbeda, yang memperlihatkan realitas kehidupan pada masa karantina ini.

Salah satu video yang dibagikan Bin pada akhir pekan lalu menggambarkan bagaimana ia harus mengantre sejak dini hari di supermarket untuk mendapatkan pasokan makanan. Banyak orang yang kesulitan untuk membeli bahan-bahan makanan sejak isolasi diberlakukan pada 21 Januari lalu, hanya beberapa hari sebelum perayaan terbesar di negara itu, Tahun Baru Imlek berlangsung.

“Tidak ada suasana perayaan kali ini, rasanya seperti mengalami cobaan, bukan sebuah tahun baru,” ujar Bin dalam video tersebut, dilansir dari South China Morning Post.

Bin juga mengatakan, tak ada satu orang pun yang nampaknya ingin memberi salam tahun baru untuk lainnya. Ia pun mengaku hanya menerima pesan teman-teman dan kerabat yang mengucapkan selamat hari perayaan ini jauh lebih sedikit dibandingkan tahun lalu.

“Mungkin semua orang terlalu khawatir tentang wabah dibanding peduli mengenai hal-hal lain,” kata Bin menambahkan.



Bin juga mengatakan, dalam sebuah video lainnya yang diunggah pada Ahad (26/1) bahwa ia tidak akan mengunggah kontennya ke platform streaming video domestik seperti Bilibili. Hal itu karena Pemerintah China mengatakan akan menindak berita dan desas-desus yang belum diverifikasi tentang wabah penyakit.

Profesor jurnalisme Rose Luwei Luqiu dari Baptist University, Hong Kong, mengatakan sensor yang ditetapkan Pemerintah China telah mulai dilonggarkan, seperti di media sosial Weibo dalam beberapa hari terakhir karena makin banyak orang yang membuat keluhan mereka didengar. Namun, berbeda dengan WeChat yang mirip dengan komentar di Facebook, di mana para pengguna biasanya akan berbicara lebih jujur, tapi sekaligus berbagi kabar-kabar ‘angin’ atau yang masih berupa isu dan rumor lainnya.

"Saya pikir orang yang menderita krisis kurang percaya pada narasi pemerintah, tetapi propaganda negara masih efektif pada masyarakat umum," kata Luqiu.

Warga Wuhan lainnya bernama Tao Jigong juga membagikan kehidupan di kotanya yang tengah berada dalam isolasi. Setelah merilis video di Youtube pada pekan lalu, ia seketika menjadi populer, dengan ratusan ribu penayangan.

Salah satu video memperlihatkan bagaimana hari-harinya sebelum meninggalkan rumah setelah isolasi diberlakukan. Mulai dari menempelkan tas plastik di atas sepatunya dan mengenakan masker hingga kacamata pelindung pernapasan.

Dalam video yang sama, ia juga terlihat mengikat beberapa tas besar perlengkapan memasak dasar dan kertas toilet ke sepeda motor listriknya karena kendaraan pribadi bermotor telah dilarang di daerah pusat Wuhan.

"Karena Komisi Kesehatan Nasional mengatakan bahwa masa inkubasi dapat berlangsung selama 14 hari, yang paling saya khawatirkan adalah keluarga saya bisa terinfeksi, atau saya bisa terinfeksi," kata Jigong dalam video tersebut.

Sementara itu, sebuah akun bernama 'citizen journalist’ dan pengacara Chen Qiushi telah membagikan video pendek yang diunggah ke Twitter dan Youtube. Chen merekam kegiatan yang cukup ekstrem dilakukannya di tengah isolasi Wuhan.

Salah satu kegiatan itu adalah, Chen menjelajahi area sekitar pasar makanan laut Huanan yang saat ini ditutup. Di sana merupakan pasar yang diyakini sebagai tempat asal wabah virus corona baru ini datang, karena kontak dekat antara manusia dan berbagai satwa liar yang dijual.

“Jika saya pulang ke rumah hidup-hidup, itu dengan sendirinya dianggap sebagai kemenangan,” ujar Chen.



Selain itu, ada lebih banyak video viral yang menyentuh di media sosial mengenai kehidupan di wilayah-wilayah Provinsi Hubei yang diisolasi. Seperti di antaranya mereka saling berteriak kata-kata untuk menyemangati satu sama lain.

Dalam satu klip pendek yang dibagikan secara luas, penduduk di sebuah perumahan di Yichang, Provinsi Hubei terdengar berteriak "Wuhan, tambahkan minyak!", kemudian ditambah dengan “Yichang, tambahkan minyak!" Mereka pun bersama-sama terdengar menyanyikan lagu kebangsaan Cina.

"Kami hanya ingin membangkitkan semangat semua orang. Penduduk kami telah dikurung di rumah selama beberapa hari dan semua orang merasa sangat tertekan. Saat itu, banyak orang menangis. Itu sangat mengharukan,” ujar seorang warga bermarga Wang, di perumahan Tujietou, Yichang, mengungkapkan cerita di balik teriakan-teriakan dan nyanyian bersama tersebut kepada The Beijing News, Senin (27/1).

Korban meninggal dunia akibat virus corona jenis baru mencapai angka 213 jiwa, Jumat (31/1). WHO pun sudah mengumumkan kondisi darurat kesehatan global akibat penyebaran virus corona.

Saat ini sudah 18 negara mengonfirmasi kasus positif corona di luar China. Kemarin dalam periode 24 jam terjadi peningkatan jumlah kematian, yaitu 43 jiwa. Kematian akibat corona mayoritas terjadi di Provinsi Hubei dan Kota Wuhan, yang menjadi episenter wabah. Belum ada kematian yang dilaporkan di luar China.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA