Sabtu, 28 Jumadil Akhir 1441 / 22 Februari 2020

Sabtu, 28 Jumadil Akhir 1441 / 22 Februari 2020

Beredar Isu Pasien Corona di Indramayu, Dinkes Nyatakan TBC

Rabu 29 Jan 2020 22:55 WIB

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Perawat mengenakan pakaian alat pelindung diri (APD) berada di Ruang Isolasi Infeksi Khusus (RIIK) untuk pasien yang terkena virus corona

Perawat mengenakan pakaian alat pelindung diri (APD) berada di Ruang Isolasi Infeksi Khusus (RIIK) untuk pasien yang terkena virus corona

Foto: Abdan Syakura
Dinkes mengakui pasien memang dirawat di ruang isolasi RSUD Indramayu

REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU  -- Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu memastikan hingga kini tak ada pasien suspek virus Corona di Kabupaten Indramayu. Instansi itupun mengimbau masyarakat tidak panik dan tetap menjaga pola hidup bersih dan sehat.

Pernyataan tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu, Deden Boni Koswara. Dia membantah beredarnya kabar mengenai adanya pasien Corona yang diisolasi di RSUD Indramayu.

''Hasil diagnosa dokter, pasien itu menderita TBC Sequele dengan infeksi sekunder (bronchopneumonia),'' tegas Deden kepada Republika, Rabu (29/1).

Isu mengenai pasien Corona di Kabupaten Indramayu itu sebelumnya beredar di media sosial maupun pesan di grup-grup WhatsApp. Hal itupun menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat.

Deden mengakui, pasien J (68) asal Desa Kiajaran Kulon, Kecamatan Lohbener, Kabupaten Indramayu, semula datang ke dokter dengan keluhan batuk dan sesak. Dokter kemudian mendiagnosa pasien itu menderita radang paru-paru basah, infeksi pada paru-paru bagian bawah.

Namun, untuk memutuskan pasien termasuk suspek Corona atau bukan, lanjut Deden, maka harus mengacu pada kriteria yang ditetapkan Kementerian Kesehatan. Yakni, pasien mengalami demam, batuk, disertai sesak dengan infeksi paru bagian bawah, dan pernah bepergian ke Cina atau kontak dengan penderita Corona dalam waktu 14 hari sebelumnya.

''Nah pasien J ini tidak masuk dalam  kriteria itu karena dia tidak pernah bepergian ke Cina ataupun kontak dengan penderita Corona dalam waktu 14 hari sebelumnya,'' terang Deden.

Deden mengakui, pasien J memang dirawat di ruang isolasi RSUD Indramayu. Namun, tindakan mengisolasi itu dikarenakan diagnosa penyakit TBC yang dideritanya.

''Pasien TBC memang diisolasi karena takutnya dia menyebarkan penyakitnya ke orang lain dan dia juga rentan terinfeksi dari orang lain. Jadi isolasi itu bukan hanya untuk kasus Corona. Kita isolasi (pasien J) karena TBC-nya,'' tukas Deden.

Deden pun mengimbau masyarakat di Kabupaten Indramayu untuk tetap tenang dan tidak panik menghadapi penyebaran virus Corona. Dia meminta masyarakat selalu menerapkan pola hidup bersih dan sehat setiap hari agar terhindar dari berbagai penyakit.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA