Friday, 15 Zulqaidah 1442 / 25 June 2021

Friday, 15 Zulqaidah 1442 / 25 June 2021

Bantul Awasi RPH Antisipasi Penyakit Antraks

Rabu 29 Jan 2020 06:40 WIB

Red: Andi Nur Aminah

Petugas mengoperasikan alat potong hewan kurban di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) PD. Dharma Jaya, Cakung, Jakarta, Rabu (22/8).

Petugas mengoperasikan alat potong hewan kurban di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) PD. Dharma Jaya, Cakung, Jakarta, Rabu (22/8).

Foto: Republika/Mahmud Muhyidin
Tujuannya guna mengantisipasi ternak terkena penyakit antraks

REPUBLIKA.CO.ID, BANTUL -- Pemerintah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta mengintensifkan pengawasan terhadap ternak di rumah potong hewan maupun tempat potong hewan. Tujuannya guna mengantisipasi ternak terkena penyakit antraks maupun penyakit hewan menular lainnya.

"Kita punya RPH (Rumah Potong Hewan) dan TPH (Tempat Potong Hewan), maka kita juga melaksanakan monitoring pengawasan terhadap keberadaan RPH dan TPH ini sebagai bentuk kewaspadaan dini terhadap dugaan kasus antraks," kata Sekretaris Daerah (Sekda) Bantul Helmi Jamharis di Bantul, Selasa (28/1).

Baca Juga

Menurut dia, kasus antraks pada ternak yang ditemukan di wilayah Kabupaten Gunung Kidul beberapa waktu lalu memang tidak meluas sampai wilayah Bantul yang berbatasan dengan Gunung Kidul. Namun upaya dan langkah antisipasif perlu dilakukan agar daging yang beredar di Bantul aman dikonsumsi.

"Kita juga melakukan pengawasan peredaran daging di pasar-pasar tradisional Bantul, kemudian juga pengawasan lalu lintas ternak terutama di wilayah perbatasan antara Bantul dan Gunung Kidul," katanya.

Sekda mengatakan, antisipasi secara regulatif juga ditempuh pemkab dengan telah menerbitkan surat edaran kepada kepala desa dan camat se-Bantul tentang kewaspadaan terhadap kemungkinan penyebaran penyakit antraks yang kasusnya ditemukan di wilayah kabupaten tetangga tersebut.

"Kemudian kita juga melaksanakan pengawasan sanitasi pada RPH maupun TPH, serta kandang kelompok di Bantul, kita dorong tetap menjaga kebersihan lingkungan tempat di manapun hewan dilakukan pemeliharaan maupun di tempat pemotongan," katanya.

Sekda mengatakan, upaya lain yang telah dikoordinasikan dengan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait yaitu Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan Bantul adalah melakukan penyemprotan desinfektan pada ternak-ternak yang dijual di pasar hewan dan memeriksa kondisi kesehatan hewan.

"Kita melaksanakan penyemprotan desinfektan ke pasar-pasar ternak setelah hari pasaran, seperti di Pasar Hewan Imogiri dan Pandak. Kemudian dari surveilans bersama Balai Besar Veteriner Wates Yogyakarta ikut melakukan antisipasi, tentu koordinasi antara kesehatan dan pertanian penting dijalin," katanya.

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan Bantul Joko Waluyo mengatakan, bahwa belum lama ini di Bantul ada laporan kematian ternak di tiga lokasi yaitu di Kretek, Dlingo dan Pleret, tapi hasil cek Balai Besar Veteriner Wates Yogyakarta semuanya negatif antraks.

"Jadi (mati) bukan karena antraks, tapi karena kembung. Jadi sampai saat ini Alhamdulillah di Bantul masih aman, apalagi Bantul salah satu kabupaten penyuplai kebutuhan daging DIY, 70 persen kebutuhan daging DIY itu dari Bantul, karena kita pemotongan ternak tertinggi sekitar 700 ekor per hari," katanya.

 

 

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA