Thursday, 12 Rabiul Awwal 1442 / 29 October 2020

Thursday, 12 Rabiul Awwal 1442 / 29 October 2020

Depresi dan Kabah, Kisah Pemuda China Singapura Jadi Muslim

Selasa 21 Jan 2020 10:54 WIB

Rep: Ratna Ajeng Tejomukti/ Red: Ani Nursalikah

Depresi dan Kabah, Kisah Pemuda China Singapura Jadi Muslim. Darren Mak, pemuda keturunan China asal Singapura yang menjadi Muslim.

Depresi dan Kabah, Kisah Pemuda China Singapura Jadi Muslim. Darren Mak, pemuda keturunan China asal Singapura yang menjadi Muslim.

Foto: Mothership/Rachel Ng
Pemuda Dhina Singapura ini pemarah dan pernah mencoba bunuh diri.

REPUBLIKA.CO.ID, SINGAPURA -- Darren Mak, pemuda keturunan China asal Singapura ini memiliki kelebihan yang cukup langka. Dia merupakan seorang polyglot, dengan kemampuan memahami 14 bahasa.

Dilansir di Mothership, Sabtu (18/1), ada satu hal yang kisahnya semakin menarik karena polyglot ini merupakan seorang Muslim. Banyak cerita dibalik hidayah yang didapatkannya.

Banyak orang mengira dia sekilas terlihat seperti pemuda sederhana yang ramah, tetapi di balik senyumnya, dia pernah menderita depresi di usia 17 tahun. Sebelum memeluk Islam, dia dikenal sebagai seorang pemarah. Bahkan depresi pernah membuatnya mencoba bunuh diri.

"Saya banyak berpikir tentang kematian, karena aku berpikir apa gunanya? Kadang-kadang saya mencari tahu cara yang paling tidak menyakitkan untuk bunuh diri dan merencanakan cara bunuh diri," kata dia.

Meski dia seorang polyglot, prestasinya di sekolah tidak sebaik bahasa yang dipahaminya. Dia juga dikenal sebagai peminum berat.

Dengan percobaan bunuh diri berkali-kali, tiba-tiba satu malam dia bermimpi hal yang menurutnya aneh. Mak bermimpi tentang situs suci umat Islam, yang belum pernah ia ketahui sebelumnya. Sebelumnya, dia merupakan seorang atheis yang tidak mempercayai agama apa pun.

photo
Suasana tawaf di Kabah, Masjid al-Haram, Makkah.
"Letakkan bebanmu dan hadapkan dirimu ke Kabah," perintah sebuah suara dalam mimpinya.

Karena tidak memiliki pengetahuan sebelumnya tentang Islam atau Kabah, Mak bingung karena dia memimpikan sesuatu yang begitu spesifik. Tetapi sebagai seseorang yang percaya pada nasib, ia menganggap ini sebagai pertanda.

"Aku benar-benar ketakutan," katanya sambil tertawa kecil.

Dia perlahan mempelajari Islam dan melakukan penelitian sendiri selama sekitar dua tahun. Ini dilakukan sebelum dia memutuskan mendaftarkan diri dalam kursus mualaf ketika dia berusia 19 tahun.

Menjadi polyglot memang berguna. "Beberapa bahasa (saya tahu) sedikit membantu ketika belajar Islam, tetapi materi utama saya masih dalam bahasa Inggris," katanya.

Ketika Mak mengumumkan mualafnya di Facebook, orang mengira dia mengerjai mereka. "Seseorang benar-benar mengirimi saya pesan 'ini lelucon kan?'"

Yang lain bisa tahu Mak orang yang sudah berubah. Suatu hari, setelah dia menjadi mualaf, Mak bertemu dengan seorang teman sekolah menengah saat makan malam.

Lima menit setelah makan, dia ingat temannya tiba-tiba berkata kepadanya, "Hei Darren, aku baru sadar kamu belum mengucapkan sepatah kata pun."

Ibu Mak cukup senang dengan perubahan pada putranya. “Kamu memiliki tujuan hidup sekarang, kamu kini menjadi lebih baik, lebih bahagia,” katanya.

Namun ayahnya, sedikit lebih berhati-hati karena mualafnya Mak terjadi selama puncak kekejaman ISIS. “Dia sangat ketakutan sehingga saya berubah menjadi teroris. Dia sangat takut sampai hari ini pun dia masih ragu. Seperti ketika saya mengatakan saya akan ke Indonesia, misalnya, dia akan bertanya, melakukan apa?" ujar dia.

photo
Muslim Singapura.
Sejak menjadi Muslim, Mak makan makanan yang berbeda dengan keluarganya. Namun, dia tidak memaksakan ibunya dapur yang benar-benar halal.

Dia tidak ingin merepotkan ibunya untuk membeli dapur baru lengkap dengan peralatan yang berbeda. Namun, ibunya memahami sehingga ketika memasak makanan untuk Mak dia memasak dengan cara yang berbeda.

Begitu juga ketika berkunjung ke rumah neneknya. Neneknya memahami cara hidup seorang Muslim. Sehingga ketika makan bersama di meja makan terhidang dua makanan yang berbeda.

Menjadi seorang Muslim China juga memberi Mak perspektif unik tentang perjuangan komunitas Muslim, seperti menemukan tempat makan di Singapura. “Makanan halal tidak murah. Setidaknya dua hingga tiga dolar lebih mahal rata-rata per makan. Dan ketika saya menyadari saya hanya bisa makan dari satu restoran di sekolah saya selama empat tahun berikutnya dalam hidup saya, saya seperti(menghela nafas)," katanya.

Mak mengaku antusias menyambut Idul Fitri dan Idul Adha. Namun, biasanya dia menghabiskan Hari Raya sendirian karena kebanyakan orang sibuk dengan keluarganya masing-masing.

"Saya biasanya menghabiskan waktu sendiri atau bersama beberapa teman yang tidak bisa berkumpul bersama keluarga," katanya.

Mak tidak terlihat seperti tipikal Muslim atau Melayu di Singapura. Ia bersyukur, terhindar dari perundungan yang sering dihadapi rekan-rekan Muslimnya sehari-hari.

Namun, ketika seorang sopir taksi mengetahui Mak adalah seorang Muslim, ia memperingatkannya untuk berhati-hati karena 'Islam selalu mendapatkan sesuatu'. Dia tidak menjelaskan lebih lanjut, tetapi jelas bagi Mak ke mana arah pembicaraan itu.

"Ini membuka mata saya pada kesulitan yang dialami umat Islam di sini. Dan ini adalah hal-hal yang tidak harus dipikirkan oleh non-Muslim," katanya.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA