Wednesday, 18 Zulhijjah 1442 / 28 July 2021

Wednesday, 18 Zulhijjah 1442 / 28 July 2021

Pengamat: Potensi Kenaikan Harga Jagung tak Perlu Dicemaskan

Senin 20 Jan 2020 07:06 WIB

Rep: Adinda Pryanka, Dedy Darmawan Nasution/ Red: Nidia Zuraya

Petani memanen jagung (foto ilustrasi). Harga jual jagung di pasar domestik berpotensi naik di awal tahun ini.

Petani memanen jagung (foto ilustrasi). Harga jual jagung di pasar domestik berpotensi naik di awal tahun ini.

Foto: Antara/Arnas Padda
Kementan memastikan harga jagung di tingkat petani masih stabil

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pengamat pertanian dari Insitut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Sentosa menilai, potensi kenaikan harga jagung pada awal tahun tidak patut dikhawatirkan terlalu berlebihan. Menurutnya, kondisi tersebut terjadi rutin hampir setiap tahun karena awal tahun merupakan masa tanam para petani.

Andreas menjelaskan, harga jagung yang kini mulai merangkak naik dikarenakan defisit produksi. Artinya, jumlah jagung yang dipanen lebih sedikit dibandingkan kebutuhan sehingga berdampak pada keterbatasan stok.

"Otomatis, harganya naik dan ini mekanisme biasa (di awal tahun)," tuturnya kepada Republika.co.id, akhir pekan kemarin.

Andreas menuturkan, masyarakat dan peternak tidak perlu mencemaskan terlalu jauh. Sebab, pada Maret, jagung sudah memasuki masa panennya kembali, sehingga ketersediaan akan membaik. Pola tanam ini sama halnya dengan padi.

Justru, Andreas menekankan, masa-masa kenaikan harga jagung yang sesekali ini patut disyukuri. Pasalnya, para petani jagung dapat merasakan margin keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan waktu biasa.

"Sesekali tidak apa, biar petani jagung juga menikmati," kata Researcher Associate di Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia ini.

Andreas memproyeksikan, pola produksi jagung sepanjang tahun ini juga tidak akan mengalami kendala. Dibandingkan beras, jagung dikenal sebagai komoditas pangan dengan tata kelola yang mudah. Proporsi impornya relatif besar, terutama untuk perusahaan pakan ternak, sehingga pengendaliannya cenderung mudah.

Sementara itu, Kementerian Pertanian (Kementan) juga memastikan harga jagung di tingkat petani masih stabil dan tidak menunjukkan peningkatan harga. Kekhawatiran sejumlah pihak terkait potensi kenaikan harga jagung akibat adanya penurunan produksi dinilai Kementan tidak terbukti.

 Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Suwandi menyatakan, berdasarkan laporan langsung dari lapangan yang diterima pihaknya, harga jagung berada di bawah Rp 4.600 per kilogram (kg).

"Harga jagung masih stabil. Masyarakat tidak perlu khawatir karena ketersediaan jagung di lapangan masih mencukupi kebutuhan Indonesia," kata Suwandi kepada Republika.co.id, Jumat (17/1).

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA