Saturday, 5 Ramadhan 1442 / 17 April 2021

Saturday, 5 Ramadhan 1442 / 17 April 2021

Asosiasi Pedagang Pasar: Subsidi Gas 3 Kg Dicabut Merugikan

Sabtu 18 Jan 2020 01:36 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Nur Aini

Pekerja memasukkan gas LPG kedalam tabung 3 kg di Stasiun Pengisian Bahan Bakar LPG Makassar di kawasan Terminal BBM Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (3/10).

Pekerja memasukkan gas LPG kedalam tabung 3 kg di Stasiun Pengisian Bahan Bakar LPG Makassar di kawasan Terminal BBM Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (3/10).

Foto: Antara/Yusran Uccang
Pedagang yang memakai gas 3 kg dan pedagang gas akan dirugikan jika subsidi dicabut.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Ketua Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Abdullah Mansuri menilai, perubahan skema subsidi elpiji tiga kilogram atau gas melon berpotensi merugikan dua jenis pedagang di pasar. Pertama, pedagang yang menggunakan gas melon sebagai komponen produksi. Kedua, pedagang gas melon itu sendiri.

Abdullah menjelaskan, untuk kategori pedagang pertama, perubahan skema subsidi gas melon otomatis akan menambah biaya operasional. Mereka akan dibatasi dalam membeli gas melon subsidi dan didorong untuk beralih ke elpiji nonsubsidi 12 kg. "Secara otomatis, harga jualnya akan naik karena beban produksi mereka naik," katanya saat dihubungi Republika.co.id, Jumat (17/1).

Sementara itu, Abdullah mengatakan, dampak berbeda akan dialami pedagang jenis kedua. Pembatasan subsidi gas melon membuat tingkat permintaan terhadap barang dagangan mereka menurun. Pasalnya, konsumen mereka cenderung menahan pembelian. Hasil akhirnya, bisnis mereka terhambat.

Baca Juga

Tapi, Abdullah meyakini, arahan kebijakan pemerintah untuk mengubah skema subsidi gas melon tidak sepenuhnya salah. Skema tertutup yang rencana diterapkan pada pertengahan 2020 ini berpotensi menekan anggaran subsidi dari pemerintah karena lebih tepat sasaran. Untuk tahun ini, pemerintah menganggarkan subsidi energi sebesar Rp 125,3 triliun.

Dengan berbagai potensi tersebut, Abdullah berharap pemerintah melakukan kajian mendalam terlebih dahulu sebelum membuat keputusan. Hal itu khususnya efek terhadap pedagang pasar maupun pengusaha lain yang masih berskala mikro dan kecil. "Kalau dilakukan sporadis tanpa melakukan kajian, ini akan berimbas ke inflasi," tuturnya.

Sebelumnya, Kementerian ESDM menyampaikan akan mengubah skema subsidi gas melon pada semester kedua tahun ini. Subsidi tidak lagi diberikan per tabung, melainkan langsung ke penerima manfaat, yaitu masyarakat miskin.

Dampaknya, harga jual gas melon akan disesuaikan dengan harga pasar yang dapat mencapai Rp 35 ribu per tabung. Saat ini, Kementerian ESDM telah menyiapkan beberapa skema untuk penyaluran subsidi di antaranya dengan menggunakan kartu atau barcode yang terhubung dengan perbankan.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA