Sunday, 21 Syawwal 1443 / 22 May 2022

Sejarah Keraton Agung Sejagat Mengada-ada

Rabu 15 Jan 2020 17:57 WIB

Red: Indira Rezkisari

Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel (keempat kiri) memperlihatkan barang bukti kasus Keraton Agung Sejagat di Purworejo dengan dua tersangkanya, Totok Santosa (kelima kiri) dan Fanni Aminadia (ketiga kiri), saat konferensi pers di Mapolda Jateng, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (15/1/2020).

Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel (keempat kiri) memperlihatkan barang bukti kasus Keraton Agung Sejagat di Purworejo dengan dua tersangkanya, Totok Santosa (kelima kiri) dan Fanni Aminadia (ketiga kiri), saat konferensi pers di Mapolda Jateng, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (15/1/2020).

Foto: Antara/Immanuel Citra Senjaya
Sejarawan memastikan cerita sejarah Keraton Agung Sejagat tidak ada.

REPUBLIKA.CO.ID, PURWOREJO -- Pernyataan Raja Keraton Agung Sejagat Totok Santosa Hadiningrat yang dipanggil Sinuwun tentang sejarah "staatsblad" Atlantik tidak tepat. Bahkan sejarawan Purworejo Soekoso D.M. menyebutnya sebagai ngoyoworo atau mengada-ada.

"Ngoyoworo sejarahnya, referensinya dari Raja Firaun hingga ada perjanjian antara Ranawijaya yang mewakili Majapahit, Syailendra, Sanjaya, Mataram Hindu dan Sriwijaya dan Majapahit untuk menandatangani staatsblad AtlantiÄ·," kata sejarawan Purworejo Soekoso D.M. di Purworejo, Rabu (15/1).

Baca Juga

Berdasarkan cerita Raja Keraton Agung Sejagat saat sidang kerajaan Ahad (12/1) intinya pada 500 tahun setelah berakhirnya Majapahit 1518 akan dikembalikan ke Nusantara atau tanah Jawa.

"Menurut dia 500 tahun itu hitungannya pada 2018. Staatsblad itu tidak ada, dilihat dari bahasanya saja katanya perjanjiannya ditandatangani di Malaka dengan Portugis, istilah staatsblad itu Belanda, kalau Portugis tidak ada. Kalau memang hal itu betul di sejarah nasional kita pasti ada. Oleh karena itu Sang Raja itu mengada-ada," katanya.

Ia menuturkan dalam sejarah memang Mataram Hindu abad 7-9, awalnya dinasti Sanjaya, kemudian didatangi dari Syailendra, Balaputadewa. Akhirnya ada perang kecil kemudian ada perkawinan antara Balaputradewa dengan Pramudawardani yang kemudian membuat Borobudur, Prambanan dan seterusnya itu Mataram Hindu.

Kemudian ada bencana alam besar awal abad ke-11 yakni Gunung Merapi meletus besar maka hancurlah Mataram Hindu dan sebagian kadernya masih bisa lari ke Jatim.

Selanjutnya di Jawa Timur muncul Sendok, Darmawangsa. Seterusnya sampai terjadi Kediri kemudian terakhir menjadi Majapahit abad 12-15.

Ia menuturkan Majapahit berakhir tahun 1400 saka atau 1478 Masehi.

"Kalau pernyataan Raja Keraton Agung Sejagat berorientasi pada berakhirnya Majapahit bukan 1518 seharusnya 1478 dan ini selisihnya 40 tahun, maka banyak yang tidak logis," katanya.

Kemudian zaman Mataram Islam tahun 1755 diintervensi Belanda dan dipecah menjadi Surakarta dan Yogyakarta.

Ia mengatakan Purworejo ini termasuk wilayah Bagelen di bawah kerajaan Surakarta tetapi praktiknya orang-orang masih setia Yogyakarta. "Dilihat dari kemasyarakatannya dulu sini masih sepi, artinya belum banyak orang dan sisa kerajaan sama sekali tidak ada," katanya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA