Friday, 17 Safar 1443 / 24 September 2021

Friday, 17 Safar 1443 / 24 September 2021

27 Warga Gunung Kidul Positif Antraks

Rabu 15 Jan 2020 17:09 WIB

Red: Reiny Dwinanda

 Tim Kementan menyelidiki kasus kematian akibat antraks di Gunungkidul.

Tim Kementan menyelidiki kasus kematian akibat antraks di Gunungkidul.

Foto: Kementan
Sebagian besar warga yang positif antraks di Gunung Kidul mengalami gangguan kulit.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Sebanyak 27 warga di Kecamatan Ponjong dan Semanu, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, dinyatakan positif antraks. Mereka terinfeksi setelah mengkonsumsi daging hewan ternak yang mati karena terpapar antraks.

Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan Gunung Kidul Sumitro di Gunung Kidul, mengatakan, pada 4 Januari 2020 Dinas Kesehatan menemukan 540 orang terpapar antraks di Dusun Ngerejek Wetan, Kecamatan Ponjong, dan 60 orang di Kecamatan Semanu.

Baca Juga

Menurut Sumitro, dari total itu, sebanyak 78 orang ada suspect gejala klinisinya. Sementara itu, uji laboratorium melibatkan sampel dari 87 orang, sebanyak 54 orang diambil darahnya dan 11 orang menjalani swipe luka.

"Yang positif antraks ada 27 orang, untuk yang di-swipe lukanya negatif antraks," kata Sumitro dalam jumpa pers "Penanganan Antraks di Kabupaten Gunung Kidul", Rabu.

Sumitro mengatakan, dari 27 orang sebagian besar positif antraks pada kulit. Sebagian di antaranya gabungan antara kulit dan pernapasan. Antraks bisa menyerang kulit, pernapasan, dan pencernaan.

Warga yang positif antraks diberikan antibiotik profilaksis lanjutan sampai 20 hari. Untuk yang menunjukkan gejala diberikan antibiotik. Selain itu, mereka yang positif dicek ulang darahya ke BBVEt Bogor, Jawa Barat.

Menurut Sumitro, antraks pada manusia tidak menular antarmanusia. Mereka biasa seperti hidup seperti manusia pada umumnya, tidak ada isolasi.

Orang yang terpapar antraks, bila tidak diobati secara benar bisa menyebabkan kematian karena komplikasi. Namun, menurut Sumitro, bila diketahui sejak awal, bisa diobati sampai sembuh.

Sumitro mengungkapkan, kasus antraks yang terjadi di Kecematan Ponjong dan Semanu telah merenggut nyawa satu orang. Warga yang meninggal merupakan pemilik sapi postitif antraks karena ikut mengkonsumsi daging dan ikut membersihkan kandang.

Untuk pencegahan penyebaran antraks, Dinas Kesehatan menggandeng Dinas Pertanian dan Pangan untuk melakukan komunikasi, dan memberikan informasi dan edukasi pencegahan antraks kepada masyarakat. "Kami juga telah membuat surat edaran kepada masyarakat kepada masyarakat untuk tidak mengkonsumsi hewan yang sakit atau memasak daging harus dimasak secara matang," katanya.


sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA