Monday, 7 Ramadhan 1442 / 19 April 2021

Monday, 7 Ramadhan 1442 / 19 April 2021

Pasukan Haftar Terima Seruan Gencatan Senjata dari Turki

Senin 13 Jan 2020 03:32 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Dwi Murdaningsih

Jenderal Khalifa Haftar.

Jenderal Khalifa Haftar.

Foto: www.islamtimes.org
Gencatan senjata mulai berlaku pada tengah malam Ahad.

REPUBLIKA.CO.ID, TRIPOLI -- Pasukan Jenderal Libya, Khalifa Haftar (75 tahun) menerima seruan bersama oleh Turki dan Rusia untuk gencatan senjata. Hal itu terlaksana dalam pertempuran di Tripoli pada Sabtu (11/1) waktu setempat.

Juru Bicara Tentara Nasional Libya (LNA) Haftar, Ahmed al-Mismari mengatakan, pasukan Haftar menerima serua gencatan senjata. Namun, akan dengan keras menanggapi jika dilanggar.

Dilansir laman berita Anadolu Agency, gencatan senjata mulai berlaku pada tengah malam Ahad. Keputusan tersebut kemudian dirayakan dengan kembang api di Tripoli.

Para pengumudi kendaraan membunyikan klakson mereka untuk merayakan gencatan senjata. Setelah deklarasi gencatan senjata itu, menurut koresponden Anadolu Agency di Tripoli, ketenangan meluas di ibu kota.

Sementara itu, Kementerian Perhubungan pada Pemeritah Kesepakatan Nasional (GNA) yang diakui PBB, mengumumkan akan membuka kembali Bandara International Mitiga Tripoli yang ditutup karena serangan Hatar. Pengumuman gencatan senjata terjadi beberapa menit setelah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengadakan pembicaraan melalui telepon.

Erdogan dan Putin mendesak gencatan senjata pada 12 Januari, menyusul pertemuan di Istanbul. Sementara, Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte mengatakan, gencatan senjata adalah langkah pertama menuju solusi politik, meski ia memperingatkan ada jalan panjang yang harus ditempuh dengan arahan yang benar.

Pada 4 April tahun lalu, Haftar meluncurkan serangan untuk merebut Tripoli dari GNA. Menurut PBB, lebih dari 1.000 orang telah tewas sejak awal operasi Haftar dan lebih dari 5.000 orang terluka.

Sejak penggulingan almarhum pemimpin Muammar Gaddafi pada 2011, dua kursi kekuasaan telah muncul di Libya. Pertama di Libya timur didukung terutama oleh Mesir dan Uni Emirat Arab, dan Kedua, di Tripoli, yang menikmati pengakuan PBB dan internasional.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA